WAHANANEWS.CO, Jakarta - Fenomena iklim global El Nino disebut berkontribusi besar terhadap meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Hal ini disampaikan pakar kesehatan berdasarkan hasil penelitian internasional yang mengaitkan perubahan iklim dengan lonjakan penyakit berbasis vektor.
Baca Juga:
Godzilla El Nino Intai Indonesia, BRIN Peringatkan Kemarau Ekstrem 2026
Menurut pakar kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, fenomena El Nino menciptakan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.
Perubahan suhu dan pola curah hujan selama periode El Nino dinilai mempercepat siklus hidup nyamuk serta memperluas area penyebaran penyakit.
“Dalam studi yang dipublikasikan di Nature, yang melibatkan 57 negara termasuk Indonesia itu. Ditemukan sekitar 60–70 persen peningkatan kasus DBD berkaitan dengan fenomena El Nino di negara-negara tersebut,” kata Pakar kesehatan, Prof. Tjandra Yoga Aditama, saat berbincang dengan Pro3 RRI, Senin (13/4/2026).
Baca Juga:
Sinyal El Niño Muncul, BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Cepat
Ia menjelaskan, besarnya dampak yang ditimbulkan oleh DBD tidak selalu sama di setiap wilayah. Hal tersebut sangat bergantung pada tingkat keparahan El Nino serta kondisi daerah endemis, termasuk kepadatan penduduk, sanitasi, dan kesiapan sistem kesehatan setempat.
“Para ahli menegaskan bahwa fenomena El Nino tidak dapat dicegah. Oleh karena itu, upaya penanggulangan difokuskan pada pencegahan penularan,” katanya.
Organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) pun telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk menekan risiko penyebaran DBD.
Strategi ini menitikberatkan pada upaya perlindungan individu serta pengendalian lingkungan.
Langkah pertama adalah menghindari gigitan nyamuk sebagai penyebab utama penularan DBD.
Upaya ini dapat dilakukan dengan mengenakan pakaian tertutup seperti baju lengan panjang, menggunakan lotion antinyamuk, hingga tidur dengan kelambu, terutama di daerah dengan tingkat kasus tinggi.
Selanjutnya, masyarakat diimbau untuk aktif memberantas sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah yang baik menjadi faktor penting dalam memutus rantai perkembangbiakan nyamuk.
Langkah ketiga berkaitan dengan penanganan dini. Masyarakat diminta untuk segera beristirahat di rumah dan memeriksakan diri ke tenaga kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri sendi, atau muncul bintik merah.
Penanganan awal, termasuk pemberian obat penurun panas, dapat membantu mencegah kondisi menjadi lebih parah.
“Namun untuk kondisi berat harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan atau dinas kesehatan setempat. Selain itu, vaksinasi menjadi upaya tambahan meskipun saat ini masih bersifat berbayar,” katanya.
Dengan meningkatnya potensi penyebaran DBD akibat perubahan iklim, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan angka kasus serta mencegah terjadinya kejadian luar biasa di berbagai daerah.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]