WAHANANEWS.CO, Jakarta - Varian influenza A (H3N2) subclade K yang dijuluki “super flu” resmi terdeteksi di Indonesia, memicu kewaspadaan baru di tengah musim infeksi saluran pernapasan yang masih berlangsung.
Kementerian Kesehatan RI mengonfirmasi temuan tersebut setelah Balai Besar Laboratorium Kesehatan melaporkan hasil pemeriksaan pada Kamis (25/12/2025).
Baca Juga:
Kekerasan Rumah Tangga dan Game Online, Fakta Lengkap Kasus Siswi SD Bunuh Ibu
“Pada tanggal 25 Desember 2025, Balai Besar Laboratorium Kesehatan melaporkan telah ditemukan Influenza A (H3N2) clade 3C.2a1b.2a.2a.3a 1/K, atau yang dikenal dengan subclade K,” ujar Pelaksana Tugas Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, Dokter Prima Yosephine, Selasa (30/12/2025).
Meski demikian, Kemenkes menegaskan subclade K hingga kini belum mendominasi total kasus influenza di Indonesia dan belum terbukti menyebabkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibanding varian sebelumnya.
“Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan subclade K menimbulkan keparahan lebih tinggi dibandingkan varian influenza lain,” kata Prima.
Baca Juga:
Menkeu Ungkap Curhat Investor Asing Soal Sulitnya Berusaha di RI
Namun demikian, pemerintah tetap mengingatkan masyarakat untuk waspada karena gejala yang ditimbulkan dapat terasa lebih berat dibanding flu musiman pada umumnya.
Infeksi influenza A subclade K diketahui dapat menimbulkan demam tinggi hingga 39–41 derajat Celcius, nyeri otot berat, lemas ekstrem, batuk kering, sakit kepala, serta keluhan tenggorokan yang berat.
“Untuk subclade K memiliki gejala-gejala yang lebih parah,” ujarnya.
Penularan virus ini juga tergolong cepat karena satu orang yang terinfeksi dapat menularkan ke dua hingga tiga orang lain dalam waktu singkat.
Karena itu, masyarakat diimbau memperkuat langkah pencegahan dengan menjaga stamina tubuh melalui asupan gizi seimbang, istirahat cukup, dan olahraga teratur.
Langkah lain yang dianjurkan adalah menjaga kebersihan lingkungan, mencuci tangan secara rutin, menggunakan masker saat berada di keramaian atau kontak dengan orang sakit, serta melakukan vaksinasi influenza.
Masyarakat juga diminta menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup mulut dan hidung serta tidak beraktivitas di ruang publik saat sedang sakit flu.
Selain imbauan umum, Kemenkes menyoroti adanya kelompok masyarakat yang dinilai lebih rentan terpapar subclade K berdasarkan pola penyebaran yang terpantau hingga akhir 2025.
Kelompok pertama adalah anak-anak yang memiliki tingkat interaksi sosial tinggi di sekolah, tempat penitipan, dan lingkungan bermain.
“Merujuk publikasi ilmiah terbaru pada Desember 2025, influenza A (H3N2) merupakan salah satu virus emerging yang pernah menyebabkan pandemi di Amerika Serikat pada tahun 1968 dan kembali menjadi penyebab peningkatan flu pada 2024 hingga 2025, khususnya pada kelompok anak-anak,” ujar Prima.
Meski demikian, vaksin influenza dinilai masih memberikan perlindungan yang cukup baik dengan efektivitas sekitar 64 hingga 78 persen pada anak-anak dalam menurunkan risiko keparahan.
Kelompok rentan berikutnya adalah lansia yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi akibat penurunan daya tahan tubuh seiring bertambahnya usia.
Kelompok ketiga adalah individu dengan penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, gangguan paru kronis, gangguan ginjal, serta kondisi imunitas yang lemah.
“Kelompok dengan komorbid tetap harus waspada, bukan karena subclade K lebih ganas, tetapi karena influenza pada umumnya dapat berdampak lebih berat pada kelompok ini,” tegas Prima.
Berdasarkan laporan WHO PAHO per Kamis (4/12/2025), peningkatan subclade K di Eropa dan beberapa wilayah Asia Timur tidak diikuti lonjakan angka rawat inap, perawatan intensif, maupun kematian.
“Observasi pada peningkatan proporsi varian ini di Eropa selama Mei hingga November 2025 menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan terhadap efek keparahan,” ujar Prima.
Kemenkes memastikan situasi influenza di Indonesia masih relatif terkendali, namun masyarakat diminta tidak lengah dan tetap menerapkan langkah pencegahan secara konsisten.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]