WAHANANEWS.CO, Jakarta - Susu nabati atau plant-based milk kian menjamur di rak supermarket, kedai kopi, hingga dapur rumah tangga karena semakin banyak masyarakat yang mulai mencari alternatif susu selain susu sapi untuk alasan kesehatan, gaya hidup, maupun kepedulian terhadap lingkungan.
Mulai dari susu kedelai, oat milk, almond milk, hingga susu kelapa kini tidak lagi hanya dikonsumsi oleh vegan atau vegetarian, melainkan juga oleh masyarakat umum yang ingin mengurangi asupan lemak jenuh, menghindari intoleransi laktosa, atau sekadar mencoba pilihan minuman yang lebih beragam.
Baca Juga:
Fakta Sejarah yang Jarang Diketahui: Babi Pernah Mendominasi Meja Makan Orang Arab
Fenomena tersebut bukan sekadar tren sesaat karena pasar susu nabati dunia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan pola makan berbasis tumbuhan.
Laporan industri menunjukkan nilai pasar susu nabati global telah mencapai lebih dari 20 miliar dolar AS dan diproyeksikan terus bertumbuh dalam satu dekade mendatang karena permintaan yang semakin besar dari konsumen di berbagai negara.
Salah satu alasan utama meningkatnya popularitas susu nabati adalah tingginya jumlah masyarakat yang mengalami intoleransi laktosa atau kesulitan mencerna gula alami yang terdapat dalam susu sapi.
Baca Juga:
Jangan Terlewat, Seleksi Anggota Badan Supervisi OJK Dibuka Sampai 12 Juni 2026
Berbagai penelitian menunjukkan susu nabati dapat menjadi alternatif yang nyaman bagi kelompok tersebut karena tidak mengandung laktosa dan umumnya lebih mudah diterima oleh sistem pencernaan sebagian orang.
Selain itu, beberapa jenis susu nabati juga mengandung senyawa bioaktif yang menarik perhatian para peneliti karena berpotensi memberikan manfaat kesehatan tertentu.
Penelitian yang dipublikasikan dalam berbagai kajian nutrisi menemukan bahwa oat milk mengandung beta-glukan yang dikaitkan dengan pengendalian kadar kolesterol dan kesehatan jantung, sementara almond milk dikenal sebagai sumber vitamin E yang berperan sebagai antioksidan alami bagi tubuh.
Kajian ilmiah lain juga menunjukkan berbagai jenis susu nabati mengandung komponen yang berpotensi mendukung kesehatan usus, membantu menjaga kadar kolesterol, serta memberikan efek antiinflamasi meskipun manfaatnya dapat berbeda-beda tergantung bahan baku yang digunakan.
Namun para ahli mengingatkan bahwa tidak semua susu nabati memiliki kandungan gizi yang sama sehingga konsumen perlu lebih cermat saat memilih produk.
Dibandingkan susu sapi, sebagian susu nabati memiliki kandungan protein yang lebih rendah sehingga penting memperhatikan label nutrisi terutama bagi anak-anak, lansia, atau individu yang membutuhkan asupan protein lebih tinggi.
Beberapa produk komersial juga mengandung tambahan gula, pemanis, pengental, atau bahan aditif lain yang dapat mengurangi manfaat kesehatan apabila dikonsumsi berlebihan.
Karena itu para ahli gizi umumnya menyarankan masyarakat memilih susu nabati tanpa tambahan gula dan yang telah diperkaya kalsium, vitamin D, maupun vitamin B12 agar nilai gizinya lebih optimal.
Di balik perdebatan mengenai mana yang lebih sehat antara susu sapi dan susu nabati, para peneliti sepakat bahwa pilihan terbaik tetap bergantung pada kebutuhan masing-masing individu.
Bagi mereka yang mengalami intoleransi laktosa, alergi susu sapi, atau menjalani pola makan berbasis tumbuhan, susu nabati dapat menjadi solusi yang praktis dan menyehatkan selama dipilih secara bijak dan dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang seimbang.
Pada akhirnya, tren susu nabati menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin sadar bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh apa yang dikonsumsi, tetapi juga oleh kemampuan memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan tubuh masing-masing.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]