WahanaNews.co | Menurut pakar peneliti independen
untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), para ilmuwan China menolak membagikan
data mentah yang mungkin bisa memperjelas duduk persoalan akan asal-usul
pandemi Covid-19.
Para
peneliti independen yang baru-baru ini kembali dari pencarian fakta ke kota
Wuhan, China, menceritakan beberapa hal selama investigasi mereka di sana.
Baca Juga:
Pilot EVA Air Pukul Kopilot di Kokpit, Maskapai Jatuhkan Sanksi
Ketidaksepakatan
soal catatan pasien dan persoalan lain bisa terbawa begitu tegang dan bahkan
kadang memicu konflik dengan para peneliti dari WHO dan China berteriak satu
sama lain.
Dilansir
dari The New York Times, peneliti independen
WHO mengatakan pada Jumat (12/2/2021) bahwa perlawanan dari pihak China yang
terus menerus dalam investigasi membuat mereka sulit mengungkap petunjuk
penting yang dapat membantu menghentikan wabah seperti itu di masa mendatang.
Para
peneliti WHO itu berada di China selama 27 hari, antara Januari dan Februari
2021.
Baca Juga:
Jet Pribadi Jatuh Saat Mendarat Darurat di Meksiko, 7 Orang Tewas
Tim itu
terdiri dari 14 pakar dari WHO yang bertugas melacak asal-usul pandemi
Covid-19.
Beberapa
dari peneliti mengatakan, rekan-rekan dari China frustrasi dengan pertanyaan
dan permintaan data yang terus menerus diminta oleh mereka.
Tim itu
bahkan didesak oleh pejabat China untuk mengikuti narasi pemerintah Beijing
tentang sumber virus.
Termasuk,
gagasan bahwa virus mungkin telah menyebar ke China dari luar negeri walau
klaim itu belum terbukti.
Menanggapi
itu, tim peneliti independen WHO mengatakan bahwa mereka tidak akan membuat
penilaian tanpa data.
Menurut
DrThea Kølsen Fischer, seorang epidemiologis yang berada di dalam tim
WHO, misi tersebut tampak sangat geopolitis.
"Semua
orang tahu seberapa besar tekanan di China agar terbuka pada penyelidikan dan
seberapa besar kesalahan yang mungkin terkait dengan hal ini," katanya.
Pada
akhirnya, tim WHO melakukan kompromi dengan memuji transparansi pemerintah
China namun meminta agar lebih banyak penelitian dilakukan tentang awal-awal
wabah di Wuhan pada akhir 2019.
Apakah
kompromi itu akan berhasil atau tidak, yang jelas, tim WHO mengatakan bahwa
mereka terus mendesak rekan-rekan peneliti mereka di China untuk mendapatkan
data mentah dan informasi lainnya.
Meski
begitu, tim WHO dikritik karena telah memberikan kemenangan di kubu China pada
jumpa pers lalu dengan mendukung gagasan kontroversial bahwa virus mungkin
telah menyebar melalui produk makanan beku.
Adapun
soal kapan wabah dimulai, tim mengatakan belum menemukan adanya bukti apa pun
bahwa wabah dimulai lebih awal dari yang dilaporkan China.
Tim
juga merasa terhalang oleh kurangnya detail catatan pasien dari kasus awal yang
dikonfirmasi dan kemungkinan kasus sebelumnya.
"Kami
memintanya [catatan pasien] pada beberapa kesempatan dan mereka memberi kami
beberapa, tetapi belum tentu cukup untuk melakukan jenis analisis yang dapat
dilakukan," kata Dominic Dwyer, seorang ahli mikrobiologi Australia di dalam
tim WHO, mengacu pada kasus yang dikonfirmasi, seperti dikutip New York Times.
Sementara
itu dari pihak ilmuwan China mengakui bahwa mereka telah menemukan 92 orang
dirawat di rumah sakit di Wuhan pada awal Oktober 2019 dengan gejala seperti
demam dan batuk.
Para
pakar China mengatakan mereka tidak menemukan jejak Covid-19 pada orang-orang
itu meski tesnya tidak lengkap.
Untuk
itu, tim WHO mengatakan masih perlu melakukan banyak penelitian.
Selama
beberapa bulan, para pejabat China dan Amerika Serikat (AS) telah saling
menuduh tanpa bukti tentang siapa yang menyebarkan virus Corona
ke dunia.
China
menolak desakan dari negara-negara Barat yang meminta agar penyelidikan
independen dilakukan.
Setelah
berbulan-bulan melakukan negosiasi, Beijing mengalah setelah WHO yang terikat
pada negara anggota seperti China, sepakat menyerahkan kendali soal hal-hal
penting kepada para pakar yang ditunjuk dari China. [dhn]