Dengan demikian, seluruh proses pembelajaran dan praktik berada dalam pengawasan ilmiah yang ketat dan berlandaskan metodologi penelitian yang valid.
“Pendekatan ilmiah menjadi kunci agar hipnoterapi dapat diterima luas. Clinical hypnosis harus dipahami sebagai ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan sesuatu yang mistis,” ujar Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Prof. dr. Kwartarini Wahyu Yuniarti.
Baca Juga:
Soal Insiden di Diskusi UGM, Wamentan Sudaryono Beri Klarifikasi
Selain berfokus pada edukasi dan perubahan persepsi, pelatihan ini juga membuka peluang baru dalam dunia medis dan kesehatan.
Saat ini, hipnoterapi tengah diuji efektivitasnya dalam membantu penanganan berbagai kondisi kesehatan, mulai dari nyeri kronis, diabetes, hingga kanker.
Hal ini menunjukkan bahwa hipnoterapi memiliki potensi besar sebagai terapi pendukung dalam dunia medis modern.
Baca Juga:
29 Mahasiswa UGM Berangkat ke Raja Ampat, Optimalkan Sumber Daya Lokal lewat KKN-PPM 2026
Berdasarkan data awal yang diperoleh, metode hipnoterapi menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan.
Tingkat keberhasilannya bahkan mencapai 93 persen hanya dalam enam sesi terapi, yang dinilai lebih efisien dibandingkan dengan metode konvensional pada beberapa kasus tertentu.
Direktur IHC, Avifi Arka, menilai bahwa kerja sama ini merupakan langkah penting dalam memberikan legitimasi dan pengakuan bagi para praktisi hipnoterapi di Indonesia.