WAHANANEWS.CO, Jakarta - Beredarnya camilan kemasan di pasaran menyimpan risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian masyarakat.
Banyak produk snack diketahui mengandung kadar gula dan garam yang cukup tinggi, meskipun dikemas secara praktis dan tampak aman dikonsumsi.
Baca Juga:
Tragedi Musim Dingin di Gaza, UNICEF Laporkan Enam Anak Meninggal Dunia
Temuan UNICEF menunjukkan bahwa hampir 72 persen camilan kemasan di kawasan Asia Tenggara memiliki kandungan gula dan garam yang melebihi batas rekomendasi kesehatan.
Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan (kemkes.go.id), gula dalam jumlah besar kerap ditambahkan pada camilan olahan untuk menciptakan rasa manis yang cepat terasa dan menarik selera konsumen.
Di sisi lain, garam atau natrium banyak digunakan pada produk camilan asin tidak hanya untuk memperkuat cita rasa, tetapi juga berfungsi memperpanjang masa simpan makanan.
Baca Juga:
Mendagri Tito Sebut Surat Bantuan ke PBB Dikirim Tanpa Sepengetahuan Gubernur Aceh
Dalam satu porsi sajian, camilan kemasan bisa mengandung gula antara 10 hingga 30 gram.
Jumlah ini setara dengan, bahkan bisa melampaui, separuh dari batas asupan gula harian yang dianjurkan bagi orang dewasa.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius, terutama jika camilan dikonsumsi lebih dari satu porsi dalam sehari.
Tak hanya gula, kandungan garam dalam camilan asin juga tergolong tinggi. Beberapa produk tercatat mengandung 300 hingga 600 miligram natrium per porsi.
Angka tersebut dapat menyumbang lebih dari 25 persen kebutuhan natrium harian hanya dari satu kali konsumsi.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) merekomendasikan agar konsumsi gula harian tidak melebihi 50 gram atau sekitar 10 persen dari total kebutuhan energi.
Sementara itu, asupan garam bagi orang dewasa disarankan kurang dari 5 gram per hari.
Jika dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus, asupan gula yang tinggi berpotensi meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe dua, serta gangguan metabolik lainnya.
Sementara konsumsi garam berlebih diketahui berkaitan erat dengan meningkatnya risiko hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke.
Oleh karena itu, konsumen diimbau untuk lebih teliti membaca label informasi nilai gizi atau nutrition facts pada kemasan produk.
Label tersebut mencantumkan kandungan gula, natrium, lemak, serta jumlah kalori per porsi sajian yang penting untuk diperhatikan.
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah kurangnya pemahaman konsumen terhadap ukuran takaran saji yang tertera.
Akibatnya, jumlah gula dan garam yang masuk ke dalam tubuh bisa jauh melampaui batas aman tanpa disadari, sehingga berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan dalam jangka panjang.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]