Dalam periode yang sama, terdapat 21 KLB suspek campak yang dilaporkan. Kasus ini tersebar di 17 kabupaten dan kota dari 11 provinsi.
Lebih lanjut, sebanyak 13 KLB di enam provinsi telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Baca Juga:
Segera Hindari! 5 Makanan Paling Cepat Merusak Fungsi Ginjal
Hal ini menandakan bahwa penyebaran virus campak sudah memasuki tahap yang perlu diwaspadai secara serius oleh seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.
Sejumlah provinsi tercatat memiliki angka KLB tertinggi, di antaranya Sumatera Barat dan Sumatera Selatan.
Selain itu, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah juga menunjukkan peningkatan kasus yang cukup signifikan.
Baca Juga:
Virus Langka Mematikan di Kapal Pesiar Kini Menyebar ke Pesawat, WHO Lacak Penumpang
Dari sisi medis, campak umumnya diawali dengan gejala demam tinggi pada penderitanya. Gejala ini kemudian diikuti oleh batuk, pilek, serta peradangan pada mata.
Tiga gejala tersebut dikenal sebagai istilah 3C dalam dunia medis. Gejala ini sering muncul sebelum ruam merah terlihat di kulit.
Apabila tidak ditangani dengan baik, campak berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Risiko ini umumnya lebih tinggi pada anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.