Air mata dan jeritan kesedihan menyatu dalam ekspresi wajahnya, menggambarkan kehilangan paling dalam seorang ibu terhadap anak tercinta.
Dengan kedua tangan, Marsinah mendekap erat bingkai foto Pratu Farkhan yang mengenakan seragam loreng TNI, seolah tak ingin melepaskan kenangan terakhir.
Baca Juga:
Judi Online Berujung Pembunuhan, Ustaz Asal Tangerang Jadi Tersangka
Pelukan pada foto itu menjadi simbol ikatan batin yang terputus secara tragis, sekaligus penopang di tengah ambruknya perasaan.
Setiap tarikan napasnya tampak berat, mencerminkan amarah, pilu, dan ketidakpercayaan atas kepergian sang anak.
“Sebelum meninggal dia menelpon saya, katanya Tuah sakit mak, kayaknya tipes atau malaria, tapi Tuah bilang baik-baik saja di sini Mak,” ujar Marsinah, Jumat (2/1/2026).
Baca Juga:
Pelat Dinas RI 25 Potong Antrean, Publik Pertanyakan Keteladanan
Marsinah mengaku tak menyangka kondisi sakit yang diceritakan anaknya berujung pada kabar kematian.
“Tapi anakku tetap saja dipukul, dianiaya sama kopral itu, saya tak percaya orang itu, anakku sakit,” katanya sambil tubuhnya kembali terkulai tak berdaya.
Marsinah tak pernah membayangkan anaknya gugur dalam tugas justru diduga di tangan seniornya sendiri, bukan karena tugas negara di medan tempur.