Ia menilai sesama prajurit TNI seharusnya saling melindungi, apalagi saat menjalankan tugas di wilayah rawan seperti Papua.
“Yang aku kecewakan anakku mati di tangan sesama TNI, bukan di pucuk senjata separatis, di bawah tangan dan kaki seorang kopral TNI yang sangat kurang ajar,” ucapnya.
Baca Juga:
Di Balik OTT Bea Cukai, KPK Temukan Setoran dan Manipulasi Sistem
Zakaria menegaskan bahwa setiap prajurit yang ditugaskan ke Papua mempertaruhkan nyawa dan tidak sepantasnya mendapat perlakuan kekerasan dari rekan sendiri.
“Tidak ada yang tidak tugas ke Papua, mereka menyambung nyawa di sana,” katanya.
Zakaria menyebut peristiwa tersebut sebagai luka berulang bagi keluarga prajurit.
Baca Juga:
Prabowo Terbang ke AS, Nasib Tarif RI–Amerika Ditentukan Pekan Ini
“Belum kering makam Prada Lucky, kini masuk lagi makam Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, sampai kapan anak-anak ini gugur di tangan sesama seragam TNI,” pungkasnya.
Tangis Marsinah Wati Silalahi, ibu Pratu Farkhan, pecah saat menceritakan sosok anaknya yang kini telah tiada.
Tubuhnya tampak terkulai dengan kepala mendongak ke atas, mulut terbuka lebar seolah menumpahkan ratapan yang tak lagi tertahan.