"Pada saat Nizam itu sudah seperti itu, dalam keadaan entah meninggal atau sudah tidak sadarkan diri. Dia (pelaku) panik, dia menghubungi dukun. Nah, dukun itu saat dia (pelaku) menghubungi itu dia (dukun) merekam," lanjut Tiwi.
Alih-alih memberikan bantuan yang diharapkan, sang dukun justru menyarankan agar Ifta melaporkan perbuatannya kepada polisi, karena dukun tersebut menyadari bahwa tindakan Ifta sudah merupakan pembunuhan.
Baca Juga:
Dinas Pendidikan Kalbar Imbau Sekolah Mutakhirkan Data Siswa untuk Penyaluran PIP Tepat
"Saya ada rekamannya, jadi dia (pelaku) nanya 'gimana kalau misalnya Nizam kayak gini'. Si dukun sudah tahu 'wah kalau kayak gini namanya pembunuhan, silakan kamu laporkan ke polisi atau RT untuk diproses lebih lanjut'. Tapi dia (pelaku) enggak mau," imbuh Tiwi.
Namun, meskipun telah diperingatkan oleh dukun, Ifta justru semakin panik dan akhirnya membuat skenario seolah-olah Nizam diculik oleh seorang pria berinisial Y.
"Pelaku sempat menceritakan kronologi kejadian, tentang apa yang terjadi pada Nizam. Dia mengurung Nizam di luar rumah, lalu Nizam tak sadarkan diri. Dukun tersebut bahkan memberi saran, 'Kamu harus pergi ke kantor polisi atau melapor ke RT setempat, situasinya sudah tidak baik.' Namun, setelah menutup telepon, pelaku tidak mengikuti arahan dari dukun itu," ungkap Tiwi.
Baca Juga:
Realisasi KUR Kalimantan Barat Capai Rp626,07 Miliar Hingga Februari 2025
Atas tindakan keji istrinya, ayah Nizam, Ichan, mengaku sangat marah dan menginginkan pelaku mendapat hukuman maksimal.
Ichan juga menyatakan bahwa selama ini Ifta tidak pernah menunjukkan tanda-tanda sebagai orang yang kejam.
"Dia terlihat sangat baik, berasal dari keluarga yang baik-baik. Saya pikir begitu. Akhirnya saya menyukainya dan menikahinya. Sebelumnya, saya sempat bertanya 'bagaimana jika saya punya anak.' Dia menjawab, 'Bagaimana nanti, apakah dengan saya, ibunya, atau kakek-neneknya.' Pelaku mengatakan, 'Nizam tidak bisa tanpa saya, karena dia bisa berjalan dan belajar makan berkat saya'," ujar Ichan.