WAHANANEWS.CO, Jakarta - Fakta mengejutkan terungkap dari kasus dugaan pembegalan yang sempat menghebohkan Probolinggo setelah seorang perawat mengaku seluruh cerita yang dilaporkannya ternyata hanya rekayasa demi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Pria bernama Nugroho Priyo Wicaksono, warga Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mengakui bahwa dirinya sengaja membuat laporan palsu terkait aksi pembegalan yang disebut menimpanya.
Baca Juga:
PBB Kritik Keras Sidang Andrie Yunus, Sebut Tuduhan Terhadap Terdakwa Terlalu Ringan
Perawat yang bekerja di RSUD Waluyo Jati Kraksaan itu bahkan mengaku melukai tubuhnya sendiri dan menjual sepeda motor milik ayahnya sebelum menyusun skenario seolah menjadi korban kejahatan jalanan.
“Saya membuat cerita palsu bahwa saya telah dibegal. Saya melakukan hal tersebut karena kebutuhan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Pengakuan tersebut disampaikan Nugroho saat menjalani pemeriksaan di Polsek Kraksaan.
Baca Juga:
Belasan Orang Terjaring OTT, Silmy Karim Resmi Ditahan KPK Setelah Pemeriksaan Maraton
Pada Senin (1/6/2026) malam sekitar pukul 21.30 WIB, Nugroho diketahui bertemu dengan seseorang yang kemudian membeli sepeda motor Honda Beat tahun 2014 milik ayahnya.
Motor tersebut dijual dengan harga Rp1,5 juta.
Setelah transaksi selesai dilakukan, Nugroho berupaya menghilangkan jejak penjualan kendaraan tersebut dengan menciptakan cerita bahwa dirinya menjadi korban pembegalan di wilayah Kraksaan.
Untuk mendukung cerita yang telah disusun, Nugroho membeli sebilah silet dan mendatangi lokasi di sebelah timur Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) di Jalan Wahidin Sudiro Husodo, Kraksaan.
Di tempat tersebut, ia sengaja melukai bagian tangan dan kepalanya agar terlihat seperti korban tindak kriminal.
"Saya melukai tangan dan kepala saya sendiri menggunakan silet, kemudian meminta bantuan seseorang yang tidak saya kenal untuk diantar berobat ke RS Waluyojati Kraksaan," jelas Nugroho.
Setelah membuat luka pada tubuhnya, ia meminta pertolongan seorang warga yang tidak dikenalnya untuk mengantar dirinya ke rumah sakit.
Dalam keterangannya kepada penyidik, Nugroho memastikan seluruh rangkaian peristiwa tersebut dilakukan seorang diri tanpa melibatkan pihak lain.
Terungkapnya kasus begal palsu itu membuat Nugroho akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat dan aparat kepolisian.
Ia mengakui informasi yang disebarkannya telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
"Saya meminta maaf kepada seluruh masyarakat Probolinggo dan kepada kepolisian, khususnya Polres Probolinggo, atas informasi yang tidak benar tersebut. Hasil penjualan sepeda motor itu saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari," tegasnya.
Sementara itu, Kapolsek Kraksaan Kompol Masykur mengingatkan masyarakat agar tidak membuat maupun menyebarkan informasi palsu karena dapat berdampak pada situasi keamanan dan ketertiban masyarakat.
Menurutnya, laporan bohong semacam itu berpotensi menimbulkan keresahan dan mengganggu kondisi kamtibmas yang selama ini berjalan kondusif.
"Kami berharap kepada masyarakat agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Dengan alasan apa pun, cerita bohong seperti ini dapat meresahkan masyarakat dan mengganggu situasi kamtibmas yang selama ini kondusif," tutur Masykur.
Polisi memastikan laporan dugaan pembegalan yang disebut terjadi di sekitar kawasan Makam Pahlawan Sidomukti, Kraksaan, tidak pernah terjadi.
Kasus tersebut dinyatakan selesai setelah pelapor mengakui sendiri bahwa seluruh cerita yang disampaikan merupakan laporan palsu.
"Jadi sudah selesai jika informasi dugaan pembegalan di sekitar makan pahlawan itu tidak benar adanya atau laporan palsu dan sudah diakui sendiri oleh korban," pungkasnya.
[Redaktur: Sandy]