Sesampainya di lokasi, Evan masih menemukan kue ulang tahun yang dibeli Jesslyn dan kemudian meminta keterangan kepada kerabat, pegawai restoran, serta tukang parkir yang disebut memberikan informasi bahwa Jesslyn diduga dibawa secara paksa oleh orang tak dikenal.
"Nah, akhirnya dia diberitahu ada peristiwa Jaslyn diikat matanya, dibekap, baru digendong secara paksa, dimasukkan ke mobil. Jesslyn sempat memberontak, minta tolong, sempat keluar dari mobil tetapi didorong lagi," ceritanya.
Baca Juga:
Kasus Penyekapan Karyawan di Senen Disorot Said Iqbal, Disebut Langgar Sila Kedua Pancasila
Andi Darti mengatakan Evan terus berupaya menghubungi Jesslyn melalui telepon seluler, surat elektronik, hingga media sosial, bahkan meminta bantuan rekannya untuk melacak lokasi telepon genggam Jesslyn.
"Evan juga minta tolong ke temannya untuk mencari tahu posisi HP-nya Jaslyn. Menurut Evan, HP-nya masih memancar dari rumah orang tuanya yang di Ancol, yang di Puri Jimbaran," kata Darti.
Evan kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke polisi dan mengikuti olah tempat kejadian perkara (TKP), namun rekaman CCTV di restoran tidak dapat diperiksa karena perangkat disebut telah rusak.
Baca Juga:
Kasus Penyekapan Karyawan Percetakan Masuk Babak Baru, 7 Orang Ditahan Polisi
"Menurut salah seorang pegawai restoran, CCTV itu sudah tidak berfungsi sejak 3 bulan yang lalu. Tapi kami juga mencurigai ya, artinya menduga lah ya, bisa saja ini ada kerja sama juga antara pemilik restoran dengan pihak yang diduga merampas kemerdekaan Jesslyn," ucapnya.
Pihak Evan bersama polisi juga mendatangi rumah orang tua Jesslyn dan bertemu dengan adik kandung Jesslyn berinisial R, namun menurut Andi Darti, keluarga disebut tidak menyambut baik kedatangan petugas.
"Seharusnya kan dia bisa menerima Polres dengan baik ya. Ada kooperatifnya Polres yang menyampaikan itu, tetapi mereka malah ya seakan menantang Polres, bahwa dia nggak terima didatangin, gitu," tuturnya.