WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tangis ketakutan setiap pagi, sakit berulang, hingga dugaan kekerasan terungkap setelah penggerebekan, kisah para orang tua ini membuka sisi gelap daycare di Yogyakarta, Minggu (26/4/2026).
Noorman Windarto menceritakan perubahan drastis perilaku dan kesehatan kedua anaknya setelah dititipkan di Daycare Little Aresha sejak 2022.
Baca Juga:
Ortu Korban Sebut Kekejaman Daycare Little Aresha Lebih Sadis dari Guantanamo
Anak pertamanya dititipkan sejak usia dua tahun hingga keluar pada 2025, sementara anak keduanya masih berada di daycare tersebut saat penggerebekan polisi terjadi.
Perubahan paling mencolok terlihat dari kebiasaan anaknya yang selalu menangis ketakutan setiap pagi saat hendak mandi untuk berangkat sekolah.
Berbeda dengan akhir pekan, anaknya justru mandi tanpa rasa takut dan terlihat normal seperti biasa.
Baca Juga:
Ngeri! 20 Bayi Disesakkan dalam Ruang 3x3, Ada yang Diikat
“Dari Senin sampai Jumat kalau mandi mau berangkat sekolah pasti menangis seperti ketakutan. Kalau Sabtu dan Minggu, natural saja. Mandinya tidak pakai nangis. Saat ini saya baru ngeh mungkin ini semacam trauma ya,” ucap Noorman.
Selain perubahan perilaku, kondisi kesehatan anaknya juga kerap memburuk dengan batuk pilek yang berulang hingga harus dirawat di rumah sakit hampir setiap bulan.
“Anak yang nomor dua, setiap bulan masuk rumah sakit. Diperiksa dokter divonis anak saya pneumonia. Saya enggak menyangka kalau kondisi ini ternyata disebabkan karena perlakuan di daycare anak saya,” ujarnya.
Kecurigaan itu semakin kuat setelah Noorman melihat video dari pihak kepolisian yang memperlihatkan kondisi anak-anak di dalam daycare tersebut.
Dalam rekaman tersebut, anak-anak terlihat diikat, tidak mengenakan pakaian, dan hanya memakai popok dalam kondisi yang memprihatinkan.
“Saya lihat video dari polisi pas anak-anak masih diikat dan gak pakai baju. Hanya pakai popok. Ada yang disuruh berdiri di cagak pintu. Ada yang dibedong. Ada yang di lantai,” tuturnya.
Pengalaman itu membuat Noorman mengaku mengalami trauma dan menyesal telah mempercayakan anak-anaknya di tempat tersebut.
“Saya trauma. Pas lihat video saya nangis. Kalau ingat video itu, nangis saya,” imbuhnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa anak-anak diperlakukan tidak layak dengan hanya diberi alas tipis dan tanpa perlindungan yang memadai.
“Anak saya di sana diperlakukan tak manusiawi. Anak ditelanjangi hanya pakai popok. Diikat pakai kain. Ditaruh di lantai cuma pakai playmate bukan kasur,” pungkas Noorman.
Kesaksian serupa juga datang dari Sri, seorang nenek yang tinggal di Kotagede, Yogyakarta, yang menceritakan pengalaman cucunya yang diduga pernah dikunci di kamar mandi oleh pengasuh.
Ia mengaku cucunya yang berusia empat tahun sempat menunjukkan ketakutan dan memberikan pengakuan sederhana tentang perlakuan tersebut.
“Dia katanya dimasukin ke kamar mandi. Dikunci di kamar mandi. Kata cucu saya ‘aku mau main enggak boleh. Enggak boleh main. terus dikunci di kamar mandi’,” ungkap Sri.
Sri juga menyebut bahwa saat dijemput, pipi cucunya tampak memerah meski tidak diketahui pasti penyebabnya karena sang anak enggan menjelaskan.
Sementara itu, orang tua lain bernama Aldewa juga mengaku menemukan tanda mencurigakan pada anaknya yang berusia tiga tahun setelah enam bulan dititipkan di daycare tersebut.
Ia melihat adanya lebam di lutut anaknya yang sebelumnya dianggap sebagai hal biasa.
“Pernah ada lebam di lutut kanan. Kalau pagi mau berangkat itu selalu nangis. Awalnya saya kira biasa, wajar anak kecil nangis atau takut pas sekolah,” ucap Dewa.
Setelah kasus ini mencuat, ia mulai menyadari kemungkinan anaknya menjadi korban perlakuan yang tidak semestinya.
Namun, ia mengaku kesulitan mendapatkan kepastian karena anaknya belum mampu menjelaskan secara jelas apa yang dialami.
“Saya tanya dipukul atau tidak. Dia jawab tidak. Kalau di media sosial kan ramai disebut anak-anak didoktrin tidak bilang apa-apa. Kalau memang ada yang melakukan saya harap harus dihukum,” tuturnya.
Kasus ini menunjukkan pentingnya pengawasan ketat serta kehati-hatian orang tua dalam memilih tempat penitipan anak agar keamanan dan kesejahteraan anak tetap terjaga.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]