WahanaNews.co | Bekerja
secara terstruktur dan taktis mulai dari importir hingga ke pengecer, Polres
Mojokerto sukses membongkar sindikat perdagangan obat aborsi.
Baca Juga:
ASN Makassar dan Tiga Orang Lain Jadi Tersangka Kasus Aborsi Ilegal
Untuk sampai ke konsumen, obat aborsi merek Cytotec itu
melalui rantai distribusi yang lumayan panjang. Yakni berpindah ke 8 tangan
berbeda yang menjadi anggota sindikat perdagangan gelap tersebut.
Obat berbahaya tersebut diimpor dari Australia oleh pria
berinisial DP, warga Pluit, Jakarta Utara. Pria yang sudah masuk daftar
pencarian orang (DPO) polisi ini memasok Cytotec dalam jumlah besar ke Jong Fuk
Liong alias Jon (43), warga Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta
Utara.
Tim Resmob Satreskrim Polres Mojokerto meringkus Jon di
rumahnya pada Minggu (28/2) sekitar pukul 04.00 WIB. Sales alat kesehatan ini
mengaku dua kali memasok pil Cytotec ke Ernawati (50), warga Kelurahan Malaka
Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur.
Baca Juga:
Polisi Bongkar Praktik Aborsi Ilegal di Makassar, Libatkan ASN Puskesmas
Jumlahnya sebanyak 448 boks obat aborsi pada 23 November
2020 dan 200 boks pada 10 Januari 2021. Jon menjual obat aborsi ke pemilik toko
obat Tulus di Pasar Pramuka, Matraman, Jakarta Timur tersebut seharga Rp 950
ribu. Setiap boks berisi 12 strip atau 120 butir Cytotec. Sehingga dari Jon,
setiap butir obat penggugur kandungan itu hanya seharga Rp 7.916.
"Setiap boks Jon mendapatkan keuntungan Rp 50.000.
Sehingga dari 648 boks yang dia jual ke Ernawati, tersangka untung Rp 32,4
juta," kata Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander, Selasa (9/3/2021).
Diciduk Polisi
Ernawati diciduk polisi di toko obat miliknya pada Jumat
(26/2) sekitar pukul 16.00 WIB. Dari dia, obat aborsi berpindah tangan ke
Supardi (53), sales obat freelance warga Manunggal Bakti, Pasar Rebo, Jakarta
Timur.
Dalam kurun waktu Agustus 2020-Februari 2021, Ernawati
menjual 140 boks obat aborsi ke Supardi. Setiap boks dia hargai Rp 1,1 juta.
Sehingga dia meraup keuntungan Rp 150 ribu per boks. Di tangan Ernawati, harga
pil aborsi itu naik menjadi Rp 9.166 per butir.
"Pasokan 448 boks Cytotec dari Jon sudah dijual semua
oleh tersangka Ernawati. Keuntungan yang dia dapatkan Rp 67,2 juta,"
terang Dony.
Supardi yang diringkus Tim Resmob Satreskrim Polres
Mojokerto pada Selasa (23/2) sekitar pukul 13.30 WIB mengaku menjual Cytotec ke
Suparno (49), pemilik toko obat tanpa nama di Pasar Pramuka, Matraman, Jakarta
Timur. Selama Agustus 2020-Februari 2021, sales obat freelance ini menjual 140
boks pil aborsi tersebut ke Suparno.
Dari setiap boks, Supardi meraup untung Rp 200 ribu karena
obat berbahaya itu dia jual Rp 1,3 juta ke Suparno. Total keuntungan yang dia
peroleh mencapai Rp 28 juta. Sampai di Supardi, harga Cytotec naik menjadi Rp
10.833 per butir.
"Teknis penjualannya, Supardi titip Cytotec di toko
obat milik Suparno. Setelah habis terjual, barulah Suparno membayar tunai ke
Supardi dengan harga Rp 1,3 juta per boks," ungkap Dony.
Pria asal Kelurahan/Kecamatan Klampis, Brebes, Jateng itu
dibekuk polisi di toko obat miliknya pada Selasa (23/2) siang. Ternyata Suparno
merekrut Rohman (39), warga Kelurahan Palmeriam, Matraman, Jakarta Timur untuk
memasarkan Cytotec.
Jual ke Tetangga
Rohman menerima upah Rp 50 ribu dari setiap menjual satu
strip Cytotec. Dia diciduk polisi di warkop Jalan Pemuda, Matraman sekitar
pukul 22.30 WIB.
Penjualan obat aborsi salah satunya dilakukan Rohman ke
tetangganya sendiri, Mochammad Ardian (20). Dia menjual pil aborsi tersebut ke
Ardian seharga Rp 200 ribu per strip berisi 10 butir. Dengan begitu, harga obat
penggugur kandungan itu naik dua kali lipat di tangan Suparno dan Rohman
menjadi Rp 20 ribu per butir.
"Pasokan 140 boks Cytotec dari Supardi laku dijual
Suparno dan Rohman ke berbagai daerah di Indonesia. Keuntungannya Rp 1,1 juta
per boks, total keuntungannya Rp 154 juta," jelas Dony.
Ardian yang dibekuk pada hari yang sama, ternyata sudah 10
kali menjual pil Cytotec ke Zulmi Auliya (33), warga Kelurahan/Kecamatan
Neglasari, Kota Tangerang, Banten sejak awal 2020 sampai Februari 2021. Mereka
bertransaksi obat aborsi di Pasar Pramuka, Matraman, Jakarta Timur.
Oleh Ardian, Cytotec dia jual Rp 500 ribu per strip berisi
10 butir. Tersangka meraup keuntungan Rp 300 ribu per strip. Di tangan Ardian,
harga obat aborsi melejit menjadi Rp 50 ribu per butir.
Tim Resmob Satreskrim Polres Mojokerto meringkus Zulmi di
rumahnya pada Senin (22/2) sekitar pukul 20.30 WIB. Zulmi memasarkan Cytotec ke
para konsumen menggunakan Facebook seharga Rp 1,5 juta per strip. Di tangan
Zulmi, pil aborsi itu menjadi Rp 150 ribu per butir.
"Saya sudah menjual 10 kali ke Jatim, Jateng, Sumatra
dan Kalimantan," ungkap Zulmi.
Salah satu pembelinya adalah Nungki Merinda Sari (25), warga
Kecamatan Pare, Kediri. Buruh pabrik plastik di Sidoarjo itu membeli satu paket
obat aborsi dari Zulmi seharga Rp 1,5 juta. Dengan harga itu, dia menerima
masing-masing satu strip Cytotec, Amoxilin dan Asamfenamat.
Nungki diringkus di tempat kosnya di Desa Sekargadung,
Kecamatan Pungging, Mojokerto pada Kamis (18/2). Dia menggugurkan kandungannya
yang baru berusia 4 bulan menggunakan pil Cytotec pada 8-9 Januari 2021. Karena
dia malu hamil di luar nikah dengan pria yang tidak direstui orang tuanya. [dhn]