WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dua kisah berbeda yang sama-sama melibatkan profesi bidan menghebohkan publik dalam waktu berdekatan, mulai dari penemuan jasad seorang bidan di Situbondo hingga terungkapnya rumah yang menampung 11 bayi di Sleman.
Perhatian masyarakat pertama kali tertuju pada kasus kematian Murtafia Rafika Dewi (34), seorang bidan yang ditemukan tak bernyawa di saluran drainase tepi Jalur Pantura Situbondo pada Sabtu (6/6/2026).
Baca Juga:
Tangis Ayah Pecah di Hebron, Bayi Palestina Tewas Setelah Tentara Israel Lepaskan Tembakan
Jasad korban ditemukan dalam kondisi tertutup potongan pohon yang berada di sekitar lokasi sehingga sempat menyulitkan proses pencarian.
Belakangan, kasus tersebut mulai menemukan titik terang setelah polisi mengungkap bahwa korban diduga dibunuh oleh suaminya sendiri.
Lokasi penemuan yang berada di kawasan jalan nasional dengan lalu lintas padat membuat kasus ini cepat menyita perhatian masyarakat.
Baca Juga:
Jangan Tergiur! OJK Sebut Nonton Drama China hingga Klik Iklan Jadi Modus Penipuan Baru
Kapolsek Banyuglugur AKP Teguh Santoso mengatakan keberadaan jenazah korban diketahui setelah polisi memperoleh informasi dari suami korban yang diduga menyerahkan diri ke Polda Jawa Timur.
"Setelah kita telusuri ternyata memang ditemukan mayat korban itu," ujar AKP Teguh Santoso.
Keterangan tersebut kemudian menjadi dasar bagi aparat untuk melakukan penelusuran hingga akhirnya menemukan jenazah korban di lokasi yang dimaksud.
Hingga kini polisi masih mendalami kronologi lengkap serta motif yang melatarbelakangi dugaan pembunuhan tersebut.
Di sisi lain, kabar meninggalnya Murtafia juga mengejutkan lingkungan tempatnya bekerja.
Direktur RSU Besuki dr Imam Haryono mengaku baru menerima informasi duka tersebut pada Sabtu (6/6/2026) petang.
"Saya dapat informasi itu tadi sekitar pukul 18.00 WIB," ujar dr Imam Haryono.
Menurut laporan internal rumah sakit, korban diketahui masih menjalankan tugasnya sebagai bidan pada Jumat (5/6/2026) malam.
"Dan tadi saya dengar ditemukan meninggal dunia," katanya.
Sementara itu, aparat kepolisian masih mengumpulkan alat bukti serta memeriksa sejumlah saksi untuk memperkuat proses penyidikan.
Jenazah korban juga telah dievakuasi guna menjalani identifikasi dan pemeriksaan lebih lanjut.
Polisi hingga kini belum mengungkap secara rinci kronologi maupun motif yang menyebabkan korban meninggal dunia.
Di tengah sorotan terhadap kasus tersebut, publik sebelumnya juga sempat dibuat geger oleh temuan 11 bayi yang tinggal dalam satu rumah di Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman.
Rumah tersebut diketahui berkaitan dengan seorang bidan yang selama ini menerima titipan bayi dari sejumlah orangtua.
Keberadaan belasan bayi dalam satu rumah awalnya dilaporkan warga karena dianggap tidak lazim.
Polresta Sleman bersama sejumlah instansi terkait kemudian melakukan pengecekan setelah menerima informasi tersebut pada Kamis (8/5/2026).
Kasat Reskrim Polresta Sleman AKP Mateus Wiwit Kustiyadi mengatakan pihaknya langsung menindaklanjuti laporan yang diterima.
"Tentunya kami merasa ada hal yang janggal terhadap adanya 11 bayi di Hargobinangun tersebut, di satu rumah dirawat tiga orang," ujar AKP Mateus Wiwit Kustiyadi.
Petugas kemudian berkoordinasi dengan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, serta Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan di lokasi.
Saat pengecekan dilakukan, tim gabungan mendapati benar terdapat 11 bayi yang dirawat di rumah tersebut.
Prioritas utama pemerintah saat itu adalah memastikan kondisi kesehatan dan keselamatan seluruh bayi.
"Kami tentunya selalu berhati-hati karena ini terkait dengan anak. Prioritas kami adalah keselamatan dan kesehatan anak, serta masa depannya," ucapnya.
Setelah pemeriksaan dilakukan, seluruh bayi kemudian dievakuasi oleh instansi terkait untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik.
"Pada hari itu, dari dinas yang berkompeten melakukan evakuasi," imbuhnya.
Hasil pemeriksaan menunjukkan tiga dari sebelas bayi tersebut mengalami gangguan kesehatan.
Tiga bayi tersebut kemudian dibawa ke RSUD Sleman untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
"Ada yang sakit jantung bawaan, sakit kuning, dan hernia. Namun yang hernia dan kuning ini sudah dalam keadaan normal."
Untuk kasus bayi dengan kelainan jantung bawaan, pihak terkait masih melakukan pemantauan lanjutan terhadap kondisinya.
"Untuk yang jantung karena bawaan, mungkin nanti ada tindaklanjutnya," tuturnya.
AKP Mateus Wiwit menjelaskan dua bayi telah dijemput kembali oleh orangtuanya setelah proses pendataan dilakukan.
Sebagian bayi lainnya kemudian diserahkan kepada Dinas Sosial Kabupaten Sleman untuk menjalani perawatan lanjutan.
"Enam bayi yang lain dirawat di Dinsos untuk penanganan lebih lanjut," ucapnya.
Berdasarkan hasil penyelidikan, seluruh bayi tersebut merupakan bayi yang dilahirkan di tempat praktik bidan berinisial OR di Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman.
Pada awalnya hanya ada satu orangtua yang menitipkan bayinya kepada bidan tersebut untuk dirawat sementara.
"Awalnya adalah hanya satu orang yang melahirkan di sana, kemudian si ibunya ini menitipkan kepada bidan tersebut untuk dirawat."
Menurut polisi, alasan yang disampaikan orangtua saat menitipkan bayi dinilai dapat diterima sehingga bidan tersebut bersedia membantu merawatnya.
"Mungkin karena kemanusiaan dan alasan tertentu dari yang menitipkan itu bisa diterima oleh bidan itu," ungkapnya.
Seiring waktu, jumlah bayi yang dititipkan terus bertambah hingga mencapai sebelas orang.
Para orangtua yang menitipkan bayi diketahui memiliki latar belakang dan alasan yang berbeda-beda.
"Alasannya ada yang bekerja, ada yang mahasiswa," tuturnya.
Polisi juga menemukan fakta bahwa rumah di Hargobinangun bukanlah lokasi perawatan utama bagi para bayi tersebut.
Selama ini para bayi dirawat di tempat praktik bidan OR di Banyuraden sebelum kemudian dipindahkan sementara.
Pemindahan dilakukan karena lokasi praktik tersebut sedang digunakan untuk kegiatan lain sehingga diperlukan tempat penampungan sementara.
"Rumah tersebut ternyata di situ hanya sementara, karena di tempat di Gamping baru ada kegiatan yang mengharuskan bayi ini digeser sementara," ucapnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]