WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kritik tajam mantan Ketua KM BEM UGM, Tiyo Ardianto, kepada Presiden Prabowo Subianto memantik kemarahan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault.
Adhyaksa bereaksi keras setelah menonton video viral Tiyo yang disebut menggunakan perumpamaan seekor kucing berpenyakit jamur untuk mengkritik kepala negara.
Baca Juga:
Dari MBG hingga IFP, Program Prioritas Presiden Prabowo Dorong Kemajuan Pendidikan Nasional
Video itu membuat Adhyaksa menilai cara Tiyo menyampaikan kritik sudah melewati batas kepatutan dalam ruang demokrasi.
“Astagfirullah. Lima tahun saya menteri, sebelumnya saya KNPI, sebelumnya HMI, sebelumnya saya seperti kamu sama saya Ketua Senat mahasiswa kamu ketua BEM kan, tapi saya belum pernah kasih statement, walaupun 10 tahun saya tidak suka dengan kebijakan Jokowi saya tidak pernah berkata kasar seperti kamu, dan saya belum pernah dengar berkata kasar seperti kamu terhadap kepala negara,” kata Adhyaksa, Minggu (14/6/2026).
Dalam video tersebut, Adhyaksa tampak tidak hanya menyayangkan pernyataan Tiyo, tetapi juga memberi teguran langsung atas cara kritik yang dianggapnya tidak pantas.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Tingkatkan Kesejahteraan dan Kompetensi Guru, Tunjangan Naik hingga Program Beasiswa Diperluas
“Itu luar biasa kamu nauzubillah, kenapa kamu ngomong begitu, gak boleh kayak gitu yah,” katanya.
Adhyaksa menyebut selama ini dirinya tidak pernah ikut memberikan pernyataan terbuka soal kondisi pemerintahan meski memiliki pandangan kritis terhadap sejumlah kebijakan.
“Hari ini saya baru ngomong karena saya kesal melihat kamu dan walaupun sebelah kamu tuh tertawa-tawa, saya gak suka dengan sikap kamu seperti itu,” katanya.
Menurut Adhyaksa, kritik terhadap pemerintah tetap boleh dilakukan, tetapi harus menjaga etika, pilihan kata, dan penghormatan terhadap simbol kepala negara.
Ia mengaku awalnya sempat menaruh simpati kepada Tiyo yang dikenal vokal mengkritik sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Kasihan kamu, pada mulanya saya simpati. Kritik pemerintah ok, kita meng-kita-kan jangan meng-kau-kan ok. Tapi ini sudah kelewatan kamu menghina kepala daerah,” kata Adhyaksa.
Tiyo belakangan menjadi sorotan karena kerap menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah, mulai dari program Makan Bergizi Gratis, nilai tukar rupiah, hingga harga bahan bakar minyak.
Adhyaksa kemudian membuat perumpamaan personal untuk menggambarkan bagaimana perasaan keluarga seseorang jika mendapat perlakuan atau ucapan serupa.
“Coba kalau bapakmu digitukan sama orang sakit hati gak kamu ? sakit hati gak bapakmu ? Jangan, pak Prabowo tuh orang tua, senior, seumuran dengan bapak saya barangkali,” katanya.
Adhyaksa juga menyampaikan bahwa kemarahannya bukan karena dorongan pihak lain, melainkan muncul dari sikap pribadi setelah melihat pernyataan Tiyo.
“Dari suara hati saya sendiri,” kata Adhyaksa.
Di sisi lain, sosok Tiyo Ardianto juga menjadi perhatian publik karena latar belakang pendidikan dan aktivitasnya di dunia gerakan mahasiswa.
Tiyo merupakan mahasiswa Program Studi Filsafat Universitas Gadjah Mada.
Ia bukan lulusan SMA negeri maupun swasta, melainkan lulusan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau PKBM Omah Dongeng Marwah di Kudus, Jawa Tengah.
Tiyo berhasil masuk UGM pada Agustus 2021 dengan menggunakan ijazah Paket C.
Selain aktif di organisasi mahasiswa, Tiyo dikenal memiliki aktivitas di bidang seni sebagai sutradara, aktor teater, dan penyair.
Sebelum memimpin gerakan mahasiswa di tingkat universitas, Tiyo tercatat telah menyelesaikan kewajiban akademiknya, termasuk Kuliah Kerja Nyata di Desa Slungkep, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, pada 2024.
Tiyo kemudian resmi terpilih dan menjabat sebagai Ketua BEM KM UGM sejak Januari 2025.
Dalam unggahan media sosialnya, Tiyo pernah mengaku sempat berpikir bahwa ijazah dan sekolah tidak selalu menentukan kehidupan seseorang.
Pandangan itu disebut membuatnya memilih jalur pendidikan alternatif melalui PKBM Omah Dongeng Marwah sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan ke UGM.
Sikap kritis Tiyo terhadap pemerintah membuat namanya semakin sering muncul dalam perbincangan publik.
Namun, respons keras Adhyaksa Dault menunjukkan bahwa gaya kritik Tiyo kini tidak hanya menuai dukungan, tetapi juga mendapat teguran tajam dari tokoh senior yang menilai etika berbicara kepada kepala negara tetap harus dijaga.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]