WAHANANEWS.CO, Jakarta - Keberhasilan sistem pemasyarakatan tidak semata-mata diukur dari aspek keamanan dan penegakan hukum di dalam lembaga pemasyarakatan.
Lebih dari itu, keberhasilan juga ditentukan oleh sejauh mana proses pembinaan mampu membentuk warga binaan menjadi pribadi yang lebih baik, produktif, mandiri, serta siap berintegrasi kembali dengan masyarakat setelah menyelesaikan masa pidananya.
Baca Juga:
Pesantren Didorong Adopsi Kurikulum Internasional untuk Cetak Santri Berdaya Saing Global
Pandangan tersebut disampaikan Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Barat IX Fraksi PKS, Ateng Sutisna, saat melakukan kunjungan kerja ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Majalengka pada Jumat (19/6/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap pelaksanaan program pembinaan yang selama ini dijalankan oleh pihak lapas dalam membekali warga binaan dengan berbagai kemampuan dan nilai-nilai positif.
Dalam kunjungannya, Ateng meninjau secara langsung sejumlah kegiatan pembinaan yang berlangsung di lingkungan lapas. Ia juga memberikan dukungan terhadap penguatan program pembinaan kepribadian yang dinilai memiliki peran penting dalam proses perubahan perilaku dan pembentukan karakter warga binaan.
Baca Juga:
Kesetaraan Gender Bukan Sekadar Kuota, Irine Dorong Perempuan Lebih Berpengaruh di Parlemen
Menurutnya, pembinaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pemasyarakatan karena memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas hidup, serta memperoleh keterampilan yang bermanfaat sebagai bekal ketika kembali ke lingkungan sosial.
“Pembinaan tidak boleh dimaknai sebagai proses menjalani hukuman. Yang lebih penting adalah bagaimana negara menghadirkan ruang pembelajaran, pembentukan karakter, dan penguatan nilai moral sehingga warga binaan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali menjadi produktif,” ujar Ateng dikutip dari situs resmi DPR RI, Senin (22/06/2026).
Sebagai bentuk dukungan terhadap pembinaan spiritual, Ateng turut menyerahkan bantuan berupa 100 paket sarana ibadah yang terdiri atas sarung, kopiah, dan buku panduan ibadah.
Bantuan tersebut diharapkan dapat menunjang aktivitas keagamaan warga binaan sekaligus memperkuat pembinaan mental dan spiritual selama menjalani masa pembinaan.
Ia menilai bahwa pembinaan keagamaan memiliki peran yang sangat strategis dalam proses rehabilitasi sosial.
Selain meningkatkan kualitas ibadah, pembinaan spiritual juga mampu menumbuhkan kesadaran diri, memperkuat kedisiplinan, serta membangun optimisme warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Selain fokus pada pembinaan kepribadian, Ateng juga memberikan apresiasi terhadap berbagai program pembinaan kemandirian yang telah berjalan di Lapas Kelas IIB Majalengka.
Beragam pelatihan keterampilan diberikan kepada warga binaan, mulai dari merajut, tata boga, menjahit, pangkas rambut, hingga kegiatan di sektor peternakan, pertanian, dan perikanan.
Menurutnya, program-program tersebut merupakan langkah nyata dalam mempersiapkan warga binaan menghadapi kehidupan setelah bebas.
Bekal keterampilan yang diperoleh selama berada di lapas dapat menjadi modal penting untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri dan produktif.
“Kami mengapresiasi program yang telah berjalan. Semuanya menunjukkan keseriusan untuk membekali warga binaan dengan kemampuan yang dapat digunakan untuk membangun kehidupan yang lebih baik,” katanya.
Ateng menambahkan bahwa keterampilan yang diperoleh warga binaan selama menjalani masa pembinaan dapat menjadi modal sosial maupun ekonomi yang berharga ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
Dengan kemampuan yang dimiliki, warga binaan diharapkan memiliki peluang yang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan atau bahkan membuka usaha secara mandiri.
“Paket ibadah yang kami salurkan hari ini memang sederhana, tetapi kami berharap dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan kepribadian, meningkatkan kualitas ibadah, serta memberikan motivasi bagi warga binaan untuk terus memperbaiki diri selama menjalani masa pidana,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Ateng menegaskan bahwa pembinaan kemandirian dan pembinaan spiritual harus berjalan secara beriringan agar proses reintegrasi sosial dapat berlangsung secara efektif dan berkelanjutan.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan tidak hanya bergantung pada satu aspek, melainkan memerlukan keseimbangan antara penguatan karakter, mental, dan keterampilan praktis.
Ia juga memberikan apresiasi kepada jajaran Lapas Kelas IIB Majalengka yang dinilai telah berupaya menjalankan berbagai program pembinaan secara konsisten meskipun menghadapi sejumlah keterbatasan.
“Keberhasilan sistem pemasyarakatan membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, organisasi sosial, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar proses pembinaan dapat berlangsung secara optimal,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIB Majalengka, Rian Firmansyah, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan yang diberikan Ateng Sutisna terhadap pelaksanaan program pembinaan di lapas yang dipimpinnya.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan perhatiannya yang telah meninjau berbagai program pembinaan di Lapas kami. Bantuan yang diberikan akan sangat membantu mendukung pembinaan spiritual warga binaan serta memperkuat proses pembentukan karakter mereka,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ateng kembali menekankan bahwa keberhasilan pembinaan warga binaan bukan hanya menjadi keberhasilan institusi pemasyarakatan semata.
Menurutnya, keberhasilan tersebut juga merupakan cerminan keberhasilan masyarakat dalam memberikan kesempatan kedua kepada mereka yang berupaya memperbaiki diri dan membangun masa depan yang lebih baik.
“Karenanya penguatan pembinaan spiritual, keterampilan, dan dukungan harus terus diperkuat agar memiliki bekal yang cukup untuk hidup mandiri, produktif, dan taat hukum setelah menyelesaikan masa pidananya,” pungkasnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]