WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa perjanjian perdagangan antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat tidak akan menambah total kuota impor energi nasional.
Menurutnya, kerja sama tersebut hanya mengalihkan sumber pasokan dari negara pemasok lain ke Amerika Serikat tanpa meningkatkan volume impor secara keseluruhan.
Baca Juga:
Danrem 042/Gapu Pimpin Pemakaman militer Almarhum Kolonel Inf (Purn) Sutrisno, Dedikasi Dikenang Sepanjang Masa
Penegasan itu disampaikan Bahlil saat menghadiri acara Semarak Milad ke-28 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Jakarta, Minggu (1/3/2026).
"Untuk kebutuhan LPG kita setiap tahun sebesar 8,3 juta ton, sementara produksi nasional kita 1,6 juta sehingga per tahun kita mengimpor 7 juta ton. Yang kedua BBM dan ketiga crude, inilah yang kita konsensuskan kemarin di Amerika untuk belanja USD15 miliar," ujar Bahlil.
Ia memaparkan bahwa kebutuhan energi nasional, khususnya Liquefied Petroleum Gas (LPG), bahan bakar minyak (BBM), dan minyak mentah, hingga kini masih sangat bergantung pada impor karena kapasitas produksi dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan.
Baca Juga:
Warga dan Staf Kelurahan Kuta Gambir Sambut Hangat Lurah Baru
Namun demikian, kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat tidak dimaksudkan untuk meningkatkan ketergantungan impor, melainkan sekadar memindahkan asal negara pemasok energi tersebut.
Bahlil juga memastikan bahwa pembelian tiga komoditas energi tersebut tetap mengacu pada mekanisme harga pasar internasional.
Bahkan, ia menyebut harga LPG dari Amerika Serikat lebih kompetitif dibandingkan dari sejumlah negara pemasok lainnya.