WAHANANEWS.CO - Cuaca ekstrem kembali menghantui berbagai wilayah Indonesia dan diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan seiring dinamika atmosfer yang semakin aktif.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penguatan Monsun Asia serta aktivitas Intertropical Convergence Zone (ITCZ) menjadi pemicu utama meningkatnya kejadian cuaca ekstrem di Tanah Air dalam sepekan terakhir.
Baca Juga:
Badai Salju: Pantai Timur AS Membeku, Transportasi dan Layanan Publik Lumpuh
Pada periode Kamis–Minggu (23–26/1/2026), BMKG mencatat hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem terjadi di sejumlah daerah, dengan curah hujan tertinggi terpantau di DKI Jakarta mencapai 171,8 milimeter per hari, disusul Banten 148,9 mm/hari, Jawa Barat 106,8 mm/hari, dan Sumatra Selatan 86,2 mm/hari.
BMKG menjelaskan kondisi tersebut merupakan hasil kombinasi sejumlah faktor dinamika atmosfer, salah satunya penguatan monsun dingin Asia yang semakin aktif.
Dalam sepekan terakhir, aktivitas Monsun Asia terpantau meningkat yang ditandai dengan penguatan kecepatan angin di wilayah Laut Cina Selatan, di mana massa udara dingin dari Asia bergerak ke selatan dan memasuki wilayah Indonesia.
Baca Juga:
Hujan Ekstrem Picu Banjir Bandang dan Longsor di Lereng Gunung Slamet, BNPB Catat Korban Jiwa
Peningkatan kecepatan angin juga teramati di sekitar Selat Karimata yang mengindikasikan aktifnya Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS), yakni aliran udara lintas ekuator dari belahan bumi utara menuju selatan.
Ketika aliran udara dari Asia tersebut bertemu dengan massa udara dari belahan bumi selatan, terbentuk pola awan memanjang akibat konvergensi antar tropis atau ITCZ.
BMKG mengungkapkan pola awan ITCZ tersebut memanjang dari Samudra Hindia barat Bengkulu, wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Laut Arafura.
Selain pengaruh Monsun Asia, sistem Siklon Tropis Luana yang telah melemah menjadi pusat tekanan rendah turut berkontribusi terhadap pembentukan pola awan memanjang dalam sepekan terakhir.
“Didukung dengan kelembapan yang tinggi dan labilitas atmosfer yang kuat, pembentukan awan dan hujan di sebagian wilayah Indonesia, khususnya bagian selatan, menjadi lebih masif sehingga memicu serangkaian bencana hidrometeorologis dalam sepekan terakhir,” kata BMKG dalam Prospek Cuaca Mingguan Periode Selasa–Minggu (27/1–2/2/2026).
BMKG memprakirakan dalam sepekan ke depan dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih berpengaruh signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia.
Pada skala global, El Niño-Southern Oscillation (ENSO) terpantau berada pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah, sehingga berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pertumbuhan awan hujan terutama di wilayah timur Indonesia.
Aktivitas Monsun Asia diprediksi masih akan persisten hingga dasarian pertama Februari 2026, sementara CENS juga diperkirakan tetap aktif dalam beberapa hari ke depan.
BMKG turut mewaspadai potensi pembentukan daerah tekanan rendah di Samudra Hindia selatan Banten, Teluk Carpentaria, serta wilayah daratan Australia bagian barat laut.
Kondisi tersebut berpotensi membentuk daerah perlambatan angin atau konvergensi di wilayah Indonesia bagian selatan yang dapat memperkuat pembentukan awan hujan.
“Dengan kondisi atmosfer yang relatif lembap dan labil, kondisi cuaca signifikan masih berpotensi terjadi di sebagian Indonesia, khususnya Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan,” jelas BMKG.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah mitigasi terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu genangan, banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor.
Pada periode Selasa–Kamis (27–29/1/2026), cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga lebat, dengan peringatan dini hujan lebat hingga sangat lebat bahkan ekstrem di Bengkulu, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
BMKG juga menetapkan Jawa Barat sebagai wilayah dengan potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem pada periode tersebut, sementara potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Barat.
Memasuki periode Kamis–Senin (29/1–2/2/2026), hujan ringan hingga lebat masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.
BMKG mengeluarkan peringatan dini hujan lebat hingga sangat lebat untuk Sumatra Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan.
Adapun potensi angin kencang diprakirakan melanda Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua Barat Daya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]