Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.
Melihat dinamika tersebut, BNPB mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan melalui optimalisasi posko siaga, pemantauan debit sungai dan waduk, penguatan tanggul, serta pengawasan wilayah rawan longsor.
Baca Juga:
BNPB Catat Rentetan Bencana di Cilacap, Sumbawa, dan Lampung Selatan
Penyebarluasan informasi peringatan dini, simulasi evakuasi, dan kesiapan personel serta peralatan dinilai menjadi langkah krusial dalam meminimalkan korban jiwa dan kerugian material.
BNPB juga mengajak masyarakat untuk aktif melakukan mitigasi mandiri, seperti membersihkan saluran air, memangkas pohon rawan tumbang, serta menyiapkan rencana evakuasi keluarga.
Di sisi lain, ancaman hidrometeorologi kering berupa karhutla juga menjadi perhatian serius, terutama di Riau dan Kalimantan Barat.
Baca Juga:
BNPB Serahkan 252 Huntara untuk Warga Terdampak Bencana di Aceh Tengah
Upaya pencegahan dilakukan melalui patroli terpadu, pemantauan titik panas, pembasahan lahan gambut, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran terbuka.
Penanganan dilakukan melalui pemadaman darat dan udara sesuai kebutuhan, disertai penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran.
Sebagai langkah terpadu, BNPB terus melakukan koordinasi lintas sektor dan pendampingan kepada pemerintah daerah guna memastikan kesiapan personel, sarana prasarana evakuasi, serta ketersediaan logistik dalam menghadapi potensi bencana susulan.