WAHANANEWS.CO, JAKARTA - Co Founder Forum Intelektual Muda Muhammad Sutisna menilai jika ada sejumlah Menteri dari Kabinet Merah Putih yang harus segera diganti. Hal itu dilihat mulai dari kinerja yang buruk hingga komunikasi yang memicu polemic.
Sutisna mengatakan, seharusnya dalam situasi yang tak pasti ini, para menteri maupun jajaran kabinet yang ada bisa lebih berhati-hati baik dalam membuat kebijakan maupun berkomunikasi kepada masyarakat.
Baca Juga:
Rumor “Jeffrie Geovanie” Masuk Kabinet Prabowo Gantikan Erick Thohir, Pengamat Bilang Hati-hati
“Jangan asal bunyi, membuat situasi makin runyam. Apalagi kita lihat saat ini IHSG kita makin anjlok, akibat dari adanya krisis kepercayaan baik pasar maupun publik terhadap pemerintah saat ini,” ujarnya dikutip dari RMOL, Minggu (23/3/2025).
Kabar akan ada reshuffle secara makro pasca lebaran nanti, lanjut Sutisna, tentunya harus segera mengganti nama-nama yang kerap bermasalah hingga menjadi musuh rakyat akibat dari ulahnya tersebut.
“Jangan sampai Presiden lamban dalam mendeteksi siapa bermasalah dan bisa berefek kepada Presiden itu sendiri,” ungkapnya.
Baca Juga:
Ramai Soal Penunjukan Ifan Seventeen sebagai Dirut PFN, Ini Jawaban Erick Thohir
Menurutnya, masih banyak anak bangsa yang kompeten dan memiliki jam terbang mumpuni yang bisa membantu Presiden dalam mewujudkan Asta Cita.
“Salah satunya adalah Harvick Hasnul Qolbi yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian. Dirinya pernah menolak secara tegas agar jangan sampai ada impor beras lagi. Hal itu berdasarkan hasil curhatan para petani kepada dirinya. Mengingat kala itu stok beras kita masih sangat surplus, apabila jadi impor. Tentu akan memberatkan petani,” bebernya.
Sutisna berharap bahwa Presiden harus segera mewujudkan Reshuffle Kabinet tersebut. Agar tak ada lagi menteri maupun jajarannya yang bekerja serampangan.
“Apalagi dalam situasi sekarang, ada hal yang paling fundamental yakni memperbaiki situasi ekonomi dan mengembalikan kepercayaan publik agar pemerintah ini bisa berjalan dengan baik untuk mewujudkan visi-misi tersebut,” kata Sutisna.
Sutisna pun membeberkan daftar Menteri-menteri yang harus segera diganti, yakni:
1. Kepala Kantor Komunikasi Presiden Hasan Nasbi
Kabar terbaru adalah kontroversi pernyataan Kepala Kantor Komunikasi Presiden Hasan Nasbi soal teror kepala babi yang menerpa dunia jurnalistik di Indonesia.
Hasan Nasbi awalnya merespons kabar teror kepala babi terhadap seorang jurnalis Tempo Francisca Christy Rosana, wartawan desk politik dan host Bocor Alus Politik. Ia mengatakan sebaiknya kepala babi yang menjadi teror kepada Tempo itu dimasak saja.
Tentunya pernyataan ini menuai banyak kecaman dari berbagai pihak yang sangat menyayangkan dengan apa yang disampaikan Hasan Nasbi.
“Tak seharusnya berkata demikian, bukan malah melindungi warga negara karena dirinya adalah bagian dari negara yang seharusnya bisa memberikan pernyataan solutif agar bisa menjamin kebebasan pers dan melindungi hak-hak warga negara. Dirinya malah berseloroh yang tak masuk akal. Sungguh amat melukai kita semua,” paparnya.
Sutisna juga mengatakan bahwa pernyataan Hasan Nasbi merupakan klimaks dari betapa buruknya tata komunikasi hingga kebijakan yang ada dalam struktur kabinet merah putih Prabowo-Gibran.
2. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dinilai telah gagal dalam memberikan kebijakan terkait gas elpiji 3 Kg sehingga menjadi polemic di masyarakat.
“Tentu kita tak mungkin lupa terkait polemik gas elpiji 3 kg beberapa waktu lalu yang merupakan kebijakan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang hampir saja membuat gejolak di masyarakat, karena tidak ada perencanaan yang matang dan terkesan serampangan,” jelasnya.
3. Menteri BUMN Erick Thohir
Erick Thohir menjadi sorotan publik karena kinerjanya yang tidak maksimal. Apalagi setelah munculnya kasus korupsi di PT Pertamina yang merugikan negara hingga ratusan triliun.
“Belum lagi menteri BUMN Erick Thohir yang terkesan tak beres dalam mengatasi tata kelola BBM kita, dengan adanya Mega korupsi di Pertamina,” katanya.
4. Menteri Perdagangan Budi Santoso
Menteri Perdagangan Budi Santoso mendapat penilaian buruk dari masyarakat karena dianggap gagal dalam menjaga stabilitas harga minyak subsidi MinyaKita.
“Menteri Perdagangan Budi Santoso, yang gagal menjaga stabilitas harga minyak subsidi MinyaKita. Produk yang sejatinya menjadi tumpuan masyarakat miskin, justru mengalami kelangkaan dan kenaikan harga,” tuturnya.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]