WAHANANEWS.CO, Jakarta - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo–Gibran merespons positif penegasan pemerintah mengenai peran strategis desa dalam sistem pengelolaan sampah nasional dan ketahanan iklim global.
MARTABAT menilai pendekatan pembangunan dari desa sebagaimana ditekankan dalam Asta Cita Presiden RI merupakan langkah visioner untuk menjawab tantangan lingkungan sekaligus pemerataan ekonomi secara berkelanjutan.
Baca Juga:
ITDC Siapkan Pengelolaan Sampah Terpadu, MARTABAT Prabowo-Gibran Soroti Pentingnya Ekologi dalam Ekonomi Pariwisata
“Inovasi pengelolaan sampah di desa harus dilihat sebagai gerakan nasional dari bawah, bukan sekadar program seremonial. Desa adalah fondasi ketahanan iklim kita,” kata Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo–Gibran, KRT Tohom Purba, Jumat (16/1/2026).
Tohom menegaskan, desa memiliki posisi unik sebagai garda terdepan pengelolaan lingkungan karena berhadapan langsung dengan persoalan sampah domestik, sumber daya alam, dan perubahan iklim.
Menurutnya, ketika desa diberi ruang, insentif, dan pendampingan inovasi, maka dampaknya akan terasa hingga level nasional.
Baca Juga:
Kolaborasi Lintas Sektor Jalankan Model Baru Pengelolaan Sampah dengan Skema Insentif Digital Terukur
“Pengelolaan sampah berbasis desa bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga soal kemandirian ekonomi, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Inilah bentuk nyata penerjemahan Asta Cita membangun dari bawah,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah melalui pemberian penghargaan kepada desa-desa inovatif sebagai standar baru pengelolaan sampah nasional.
Menurut Tohom, praktik baik seperti ekonomi sirkular dan zero waste perlu direplikasi secara sistematis agar tidak berhenti pada desa percontohan semata.
Lebih jauh, Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan mengatakan bahwa inovasi pengelolaan sampah desa memiliki kaitan langsung dengan agenda transisi energi dan pengendalian emisi karbon.
Sampah, kata dia, tidak lagi boleh dipandang sebagai beban, melainkan sumber daya alternatif jika dikelola dengan pendekatan teknologi dan partisipasi warga.
“Ketahanan iklim tidak bisa dibangun hanya dari kota besar. Desa justru menjadi kunci, karena di sanalah perubahan perilaku, pengelolaan sumber daya, dan energi bersih bisa dimulai secara nyata,” kata Tohom.
Ia menambahkan, konsistensi kebijakan lintas sektor menjadi faktor penentu keberhasilan. Tanpa dukungan regulasi, pendanaan, dan pendampingan yang berkelanjutan, inovasi desa berisiko stagnan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]