WAHANANEWS.CO, Jakarta - Meningkatnya aktivitas membaca di kalangan Generasi Z menjadi peluang strategis yang patut dimanfaatkan secara optimal oleh berbagai pemangku kepentingan.
Tren positif ini dinilai dapat menjadi titik awal untuk mendorong peningkatan literasi masyarakat Indonesia secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat budaya membaca di tengah arus digitalisasi yang kian pesat.
Baca Juga:
Profil Sushila Karki, Perdana Menteri Nepal Sementara yang Dipilih Generasi Z
Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, menekankan bahwa lonjakan minat baca di kalangan generasi muda tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa arah kebijakan yang jelas dan terukur.
Ia menilai momentum ini harus direspons dengan langkah konkret agar memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.
"Peningkatan minat baca di kalangan generasi muda ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan berbagai langkah strategis agar berkelanjutan dan pada akhirnya mampu meningkatkan literasi masyarakat Indonesia," ujar Lestari dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria, di Jakarta, Sabtu (25/4/2026).
Baca Juga:
Teknologi, Media Sosial, dan Pola Hidup Gen Z: Saat Kesenangan Instan Jadi Kebiasaan
Data dari lembaga survei Jakpat pada semester kedua 2025 menunjukkan bahwa Generasi Z (usia 14–29 tahun) mencatat tingkat aktivitas membaca sebesar 26 persen.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan generasi Milenial (30–45 tahun) yang berada di angka 20 persen, serta Generasi X (46–61 tahun) yang hanya mencapai 18 persen.
Temuan ini mengindikasikan adanya pergeseran pola aktivitas generasi muda yang mulai memilih kegiatan yang lebih produktif dan bernilai tambah dalam mengisi waktu luang.
Meski demikian, perempuan yang akrab disapa Rerie tersebut mengingatkan bahwa tingginya minat baca belum tentu berbanding lurus dengan tingkat literasi.
Literasi tidak hanya soal membaca, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat.
Untuk itu, Politisi Fraksi Partai NasDem tersebut mendorong penerapan berbagai strategi guna memastikan kebiasaan membaca dapat berkembang menjadi budaya literasi yang kuat.
Salah satu upaya yang dinilai efektif adalah menggerakkan komunitas baca, baik berbasis digital maupun tatap muka, sehingga tercipta ruang diskusi yang aktif, termasuk kegiatan bedah buku dan penulisan resensi secara mandiri.
Selain itu, Rerie juga menekankan pentingnya peran institusi pendidikan. Sekolah dan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menugaskan siswa untuk membaca, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis melalui analisis, evaluasi, hingga penyajian ulang informasi dalam berbagai bentuk.
Ia juga menyoroti pentingnya akses terhadap bahan bacaan yang merata dan terjangkau.
Menurutnya, keberadaan buku fisik dan digital di perpustakaan harus terus diperkuat, disertai kebijakan harga buku yang lebih ramah bagi masyarakat luas.
Lebih lanjut, Rerie berharap pemerintah dapat segera menghadirkan kebijakan yang mendukung keterjangkauan bahan bacaan, seperti penghapusan pajak buku dan pemberian insentif terhadap industri kertas.
Langkah ini diyakini akan memperluas akses masyarakat terhadap sumber pengetahuan.
Dengan berbagai upaya tersebut, Rerie menegaskan bahwa capaian 26 persen Generasi Z yang aktif membaca tidak sekadar menjadi data statistik, melainkan dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun ekosistem literasi nasional yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]