WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah dilaporkan mengalami penurunan tajam menjelang pertengahan Maret 2026.
Berdasarkan laporan Reuters, penurunan tersebut mencapai hingga sekitar 60 persen dibandingkan periode Februari.
Baca Juga:
Selat Hormuz Lumpuh, Negara Maju Sepakat Lepas 400 Juta Barel Cadangan Minyak
Penurunan terjadi di kawasan Teluk Persia yang merupakan pusat produksi minyak dunia.
Sejumlah negara utama seperti Arab Saudi turut terdampak sebagai salah satu eksportir minyak terbesar global.
Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu aktivitas produksi serta distribusi energi.
Baca Juga:
Sinergi TNI–Polri dan Pemda, Apel Operasi Ketupat 2026 Digelar di Polda Jambi
Akibat konflik tersebut, beberapa ladang minyak terpaksa menghentikan operasionalnya.
Situasi semakin memburuk setelah jalur strategis Selat Hormuz mengalami penutupan efektif.
Selat ini merupakan jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Gangguan di kawasan tersebut memberikan dampak besar terhadap pasar energi dunia.
Sejumlah pengiriman minyak dibatalkan sehingga memicu gangguan pasokan yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah industri energi.
Dampaknya, harga minyak mentah melonjak hingga mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Bahkan, beberapa jenis bahan bakar mencatatkan rekor harga tertinggi akibat tekanan pasokan tersebut.
Data dari Kpler menunjukkan bahwa ekspor minyak, kondensat, dan bahan bakar olahan dari delapan negara kawasan tersebut mengalami penurunan signifikan.
Volume ekspor tercatat hanya sekitar 9,71 juta barel per hari.
Padahal sebelumnya, angka ekspor mencapai lebih dari 25 juta barel per hari pada Februari.
Artinya, terjadi penurunan sekitar 61 persen dalam waktu singkat.
Negara-negara yang termasuk dalam perhitungan tersebut meliputi Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.
Sementara itu, data dari Vortexa menunjukkan penurunan yang lebih dalam.
Ekspor tercatat hanya sekitar 7,5 juta barel per hari atau turun sekitar 71 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Sebelum konflik memanas, delapan negara tersebut menyumbang sekitar 36 persen dari total ekspor minyak global melalui jalur laut.
Namun demikian, angka ekspor diperkirakan masih bisa lebih rendah karena sebagian minyak saat ini tertahan di kapal dan belum dikirim ke pasar internasional.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]