WahanaNews.co | Belakangan
ini, viral cerita tentang warga yang tak bisa masuk mal lantaran tidak terdata
di aplikasi PeduliLindungi. Padahal, dia sudah divaksin di luar negeri.
mal">
Baca Juga:
Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Terima Laporan Tiga Kasus Gejala PMK
Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman,
mengkritik aplikasi PeduliLindungi yang menurutnya justru menyulitkan
pemerintah sendiri.
"Selain belum efektif saat ini karena sistem database
belum terintegrasi kemudian juga cakupan vaksinasinya juga belum 50%, terbatas,
orang akses juga terbatas, masih menunggu antrean dan sebagainya," ujar
Dicky Budiman, Jumat (13/8/2021).
"Ini (PeduliLindungi) akan menyulitkan pemerintah
sendiri dan dunia usaha jadi niatnya betul untuk membatasi tetapi itu bukan
akar masalahnya," imbuhnya.
Baca Juga:
Pemkab Kepulauan Seribu Targetkan 4.295 Anak Terima Vaksin Polio PIN Tahap Pertama
Menurut Dicky, masalah utamanya yakni 3T yaitu testing,
tracing, dan treatment. Dicky mengatakan jika 3T di Indonesia kuat maka tidak
perlu adanya aplikasi semacam PeduliLindungi.
"Bukan hanya satu (kasus) aja, pasti banyak yang lain
itu kan merugikan banyak pihak dan ini akan semakin banyak (masalah terkait
integrasi data). Nanti terjadi di berbagai macam aktivitas," katanya.
Menurutnya, sertifikat vaksin yang ada di aplikasi
PeduliLindungi tidak bisa jadi patokan tunggal seseorang untuk beraktivitas.
Dia menekan, masih banyak orang yang belum divaksin sehingga upaya mencapai
kekebalan komunal (herd immunity) belum tercapai.