WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gerakan Srikandi Indonesia (GSI) resmi menggelar kongres perdana yang dirangkaikan dengan deklarasi organisasi sebagai langkah awal memperkuat peran strategis perempuan dalam pembentukan karakter generasi bangsa.
Kegiatan tersebut berlangsung di Kembang Goela Plaza Sentral, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 7 Februari 2026.
Baca Juga:
Kolaborasi BPJS Kesehatan dan BRIN Dorong Kebijakan JKN Berbasis Data
Kongres ini menjadi momentum penting bagi GSI untuk menegaskan komitmen organisasi dalam mendorong peran aktif perempuan, khususnya dalam lingkup keluarga, sebagai fondasi utama pendidikan karakter anak di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Pendiri Gerakan Srikandi Indonesia, Delima Hasri Azahari, menekankan pentingnya peningkatan kualitas literasi pengasuhan di masyarakat.
Ia berharap kehadiran organisasi ini dapat menjadi motor penggerak dalam membangun ketahanan mental keluarga melalui penyebaran nilai-nilai positif yang berkualitas dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Raksasa di Bawah Bandung, Sesar Lembang Menyimpan Energi Gempa M 7
"Keluarga, bagaimana kita mendidik anak-anak kita dan sebagainya, itu yang harus lebih banyak digaungkan di televisi, di media. Kita tunjukkan hal-hal yang positif dari Srikandi Indonesia," ujar Delima Hasri Azahari.
Menurut Delima, pemberdayaan perempuan tidak boleh berhenti pada aspek formal semata, tetapi harus berdampak langsung terhadap pembentukan moral dan karakter anak sejak usia dini.
Konsistensi dalam pengasuhan dinilai menjadi kunci utama, terlebih di era modern yang sarat dengan tantangan sosial dan budaya yang berpotensi menggerus nilai-nilai keluarga.
"Tolong dikasih tahu bahwa makna dan gerakan dari Srikandi Indonesia adalah menampilkan hal-hal yang positif dari wanita Indonesia. Kita harus tonjolkan kelebihan-kelebihan dari wanita dan sebagainya, kita tonjolkan hal-hal yang positif," ujar Prof. Delima yang juga merupakan Pejabat Fungsional Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Lebih lanjut, GSI berkomitmen menjadi ruang bersama untuk melawan dominasi konten negatif yang marak beredar di ruang publik.
Organisasi ini menilai derasnya informasi bernuansa kekerasan dan kriminalitas berpotensi merusak tatanan sosial, sehingga perlu diimbangi dengan narasi edukatif dan inspiratif yang berakar pada nilai kebaikan.
Ketua Umum Gerakan Srikandi Indonesia, Dewie Yasin Limpo, turut menegaskan bahwa setiap anggota memiliki tanggung jawab moral untuk membawa perubahan positif di lingkungannya masing-masing.
Ia berharap perempuan Indonesia mampu tampil sebagai agen pembentuk generasi yang berintegritas, berkarakter, serta memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.
"Karena visinya adalah kita ingin terwujudnya perempuan Indonesia yang berdaya, mandiri, dan bermartabat untuk bangsa Indonesia. Gerakan Srikandi Indonesia ini, organisasi ini, adalah wadah untuk kita berkumpul, mengolah semua potensi yang ada dalam diri perempuan Indonesia," kata Dewie.
Pendekatan berbasis keluarga yang diusung GSI dipandang sebagai instrumen strategis dalam menjaga moralitas bangsa dari pengaruh negatif globalisasi.
Pendidikan karakter yang dimulai dari rumah diyakini menjadi investasi jangka panjang yang paling bernilai bagi keberlanjutan bangsa di masa depan.
Kongres perdana ini ditutup dengan semangat kebersamaan seluruh pengurus dan anggota untuk mewujudkan visi perempuan Indonesia yang berdaya dan bermartabat, dengan tetap berakar kuat pada nilai-nilai keluarga. GSI bertekad menjaga martabat bangsa melalui pengasuhan anak yang sehat, berkarakter, dan dilandasi kasih sayang.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]