WAHANANEWS.CO, Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot secara resmi meluncurkan Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 pada Selasa (10/2/2026).
Peluncuran ini menjadi momentum penting dalam penguatan ekosistem hidrogen nasional sekaligus menegaskan peran strategis hidrogen dalam mendukung transisi energi dari sumber berbasis fosil menuju energi bersih dan berkelanjutan.
Baca Juga:
ESDM Prioritaskan Sampah Jadi Energi, Presiden Prabowo Pantau Langsung Proyek Waste to Energy
Dalam sambutannya, Yuliot menekankan bahwa hidrogen merupakan salah satu pembawa energi nol karbon selain listrik yang memiliki potensi besar dalam mendukung dekarbonisasi.
Pemanfaatan hidrogen dinilai krusial untuk mempercepat pergeseran menuju energi terbarukan serta menekan emisi gas rumah kaca.
"Pemerintah Indonesia tetap berkomitmen terhadap upaya mitigasi perubahan iklim. Dalam jangka panjang, Indonesia menargetkan pengurangan porsi pemanfaatan energi fosil secara bertahap sebagai bagian dari pencapaian Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. Salah upayanya adalah menetapkan hidrogen dan amonia sebagai Sumber Energi Baru," ujar Yuliot.
Baca Juga:
BNPB Apresiasi Kinerja SAR Longsor Pasirlangu, 53 Korban Berhasil Dievakuasi
Yuliot mengungkapkan, penggunaan hidrogen di Indonesia sejatinya telah berjalan, khususnya di sektor industri.
Saat ini, hidrogen banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam industri pupuk dan pengolahan minyak.
"Konsumsi hidrogen di Indonesia saat ini berkisar 1,75 juta ton per tahun, dengan pemanfaatan didominasi untuk urea (88%), amonia (4%), dan kilang minyak (2%)," ungkapnya.