Kondisi lahan yang semakin kering pada musim kemarau dapat membuat api menyebar dengan cepat apabila kebakaran tidak segera dikendalikan.
Karhutla juga berpotensi menimbulkan dampak lanjutan berupa kabut asap yang dapat mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Baca Juga:
Puan Minta Pemerintah Perkuat Penanganan Karhutla dan Lindungi Warga di Kalimantan
Asap kebakaran dalam skala besar juga dapat mengganggu aktivitas transportasi, pendidikan, perekonomian, serta kehidupan masyarakat di wilayah terdampak.
Pemantauan hotspot menjadi salah satu instrumen penting untuk mendeteksi wilayah yang memiliki indikasi peningkatan suhu permukaan dan berpotensi mengalami kebakaran.
Namun, keberadaan hotspot tidak selalu berarti telah terjadi kebakaran sehingga verifikasi kondisi di lapangan tetap diperlukan.
Baca Juga:
Cegah Karhutla, Polsek Lawang Kidul dan PT BAS Perkuat Sinergi
Dengan jumlah titik panas yang telah menembus 1.104 titik, upaya pencegahan dan pengendalian karhutla di Sumatera menjadi semakin penting untuk mencegah kebakaran berkembang lebih luas.
Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbesar, sedangkan Pelalawan menjadi daerah dengan konsentrasi titik panas paling tinggi di Provinsi Riau.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.