WAHANANEWS.CO, Jakarta - Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menegaskan pentingnya langkah konkret dari pemerintah dalam menghadapi dampak perubahan iklim global yang semakin mengkhawatirkan.
Ia menekankan perlunya kesadaran kolektif untuk menghadapi kondisi yang telah berkembang menjadi krisis iklim.
Baca Juga:
MPR RI Nonaktifkan Dewan Juri dan MC LCC Empat Pilar 2026 Kalbar Usai Polemik Penilaian
Pernyataan itu disampaikannya dalam forum Indonesia Net Zero Summit 2025 yang digagas oleh Foreign Policy Community Indonesia (FPCI).
Eddy menyoroti bahwa salju abadi di Cartenz, Papua, kini hanya menyisakan sekitar lima persen dari kondisi setengah abad silam.
"Saat ini yang kita hadapi bukan sekedar perubahan iklim, tapi sudah menjadi ancaman krisis iklim. Data kualitas udara Jakarta dalam tiga tahun terakhir menunjukkan kita sebagai kota dengan polusi terburuk di dunia," ujar Eddy dalam siaran pers, Minggu (27/7/2025).
Baca Juga:
Skandal Nilai Berbeda, Juri dan MC LCC MPR RI Resmi Dinonaktifkan
Ia juga menyoroti pentingnya strategi percepatan menuju transisi energi berkelanjutan. Dalam dokumen RUPTL PLN 2025-2034, telah ditargetkan penambahan kapasitas pembangkit baru sebesar 69,5 gigawatt (GW).
"Bahkan dalam RUPTL PLN 2025-2034 kita juga sudah memasukkan rencana pembangunan 0,5 GW energi nuklir modular. Yang sifatnya bersih, stabil, dan aman sebagai komitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan industri dengan menyediakan energi bersih," terangnya.
Eddy optimistis bahwa transisi energi bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.