WAHANANEWS.CO, Jakarta - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif langkah delegasi Indonesia yang mengangkat pengelolaan sampah berkelanjutan sebagai agenda prioritas dalam The 9th ASEAN Smart Cities Network Annual Meeting di Banyuwangi, Jawa Timur.
“Pengelolaan sampah yang dibawa Indonesia ke forum kota cerdas ASEAN menunjukkan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melihat persoalan lingkungan sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi, kesehatan masyarakat, ketahanan energi, dan kualitas kehidupan perkotaan,” kata Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran KRT Tohom Purba.
Baca Juga:
Ruang Bersama Lansia Jakarta, MARTABAT Prabowo-Gibran: Perlu Dikembangkan dalam Skala Aglomerasi
Tohom mengatakan gerakan Indonesia ASRI yang mengusung prinsip Aman, Sehat, Resik, dan Indah perlu diterjemahkan menjadi program terpadu yang dapat diterapkan secara konsisten oleh pemerintah pusat dan daerah.
“Indonesia ASRI jangan berhenti sebagai gerakan kebersihan, tetapi harus berkembang menjadi sistem pengelolaan lingkungan yang menghubungkan pemilahan sampah, pengangkutan, pengolahan, daur ulang, pemanfaatan energi, dan pengawasan secara digital,” ujarnya.
Menurut Tohom, penempatan isu sampah dalam agenda ASEAN Smart Cities Network merupakan langkah tepat karena kota cerdas tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan aplikasi, kamera pengawas, atau layanan digital.
Baca Juga:
TKDN IKN Dinilai Perkuat Ekonomi Nasional, MARTABAT Prabowo-Gibran: Jaga Identitas dan Kemandirian Nasional
Ia berpandangan kota cerdas harus mampu menyelesaikan persoalan dasar masyarakat melalui tata kelola yang terukur, termasuk mengurangi timbunan sampah, memperbaiki kualitas udara, menjaga kebersihan sungai, dan menyediakan lingkungan permukiman yang sehat.
“Ukuran kota cerdas bukan banyaknya teknologi yang dipasang, melainkan sejauh mana teknologi tersebut mampu mengurangi persoalan warga dan mempercepat pelayanan pemerintah,” kata Tohom.
Delegasi Indonesia dalam forum tersebut dipimpin Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri Safrizal ZA yang turut memaparkan perkembangan 18 proyek smart city di enam daerah anggota ASEAN Smart Cities Network Indonesia.
Enam daerah tersebut meliputi DKI Jakarta, Kabupaten Banyuwangi, Kota Makassar, Kabupaten Sumedang, Kota Semarang, dan Kota Denpasar.
Indonesia juga mendorong pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir melalui gerakan Indonesia ASRI yang dipadukan dengan percepatan pembangunan fasilitas waste-to-energy.
“Indonesia mendorong pengelolaan sampah melalui gerakan Indonesia ASRI yang dipadukan dengan percepatan pembangunan fasilitas waste-to-energy,” kata Safrizal dalam tayangan Headline News Metro TV, Kamis (23/7/2026).
Safrizal menyampaikan bahwa seluruh unsur kota cerdas perlu dituangkan dalam program, perencanaan, tim pelaksana, serta capaian yang dapat diukur secara nyata.
“Semua aspek ‘Smart’ ini harus terprogram dalam kegiatan, tercermin dalam perencanaan, memiliki tim yang solid, dan menunjukkan progres yang nyata,” ucapnya.
Tohom menilai pembangunan fasilitas waste-to-energy dapat menjadi bagian dari solusi apabila dilakukan berdasarkan kebutuhan daerah, volume sampah, kesiapan teknologi, kemampuan pembiayaan, dan perlindungan lingkungan.
“Pemerintah harus memastikan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi tidak hanya dibangun untuk mengejar target proyek, tetapi benar-benar mampu mengurangi timbunan sampah dan menghasilkan energi secara efisien,” katanya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa pengembangan waste-to-energy harus didahului oleh pembenahan sistem pemilahan sampah dari sumbernya.
Menurut dia, sampah yang tidak dipilah akan menurunkan kualitas bahan baku, meningkatkan biaya pengolahan, memperbesar risiko pencemaran, dan mengurangi efisiensi produksi energi.
“Pemilahan harus dimulai dari rumah tangga, pasar, kawasan komersial, perkantoran, dan industri agar fasilitas pengolahan menerima bahan baku yang sesuai dengan teknologinya,” ujarnya.
Tohom mendorong pemerintah daerah melibatkan masyarakat, pelaku usaha, bank sampah, pemulung, komunitas lingkungan, perguruan tinggi, dan lembaga perlindungan konsumen dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah.
Ia menilai partisipasi masyarakat akan tumbuh apabila pemerintah menyediakan sarana pemilahan, jadwal pengangkutan yang jelas, insentif ekonomi, edukasi berkelanjutan, dan informasi mengenai tujuan pengolahan sampah.
“Warga akan ikut menjaga kebersihan apabila mereka melihat bahwa sampah yang telah dipilah benar-benar dikelola dengan baik dan tidak kembali dicampur saat diangkut,” katanya.
MARTABAT Prabowo-Gibran juga mendorong enam daerah anggota ASCN Indonesia menjadi proyek percontohan yang dapat direplikasi oleh kota dan kabupaten lain.
Menurut Tohom, setiap daerah dapat mengembangkan model berbeda sesuai karakter wilayah, seperti pengelolaan sampah perkotaan padat di Jakarta, penguatan kebersihan kawasan wisata di Banyuwangi dan Denpasar, serta integrasi layanan digital di Semarang, Makassar, dan Sumedang.
“Keberhasilan enam daerah tersebut harus menghasilkan model yang dapat dipelajari, diukur, diperbaiki, dan diterapkan oleh daerah lain tanpa harus selalu memulai dari awal,” ujarnya.
Tohom berharap forum ASEAN Smart Cities Network tidak hanya menghasilkan pertukaran gagasan, tetapi juga membuka kerja sama teknologi, pembiayaan hijau, peningkatan kapasitas pemerintah daerah, dan pengembangan industri pengolahan sampah dalam negeri.
Ia mengatakan Indonesia memiliki peluang besar menjadi rujukan pengelolaan sampah di kawasan ASEAN apabila mampu menggabungkan kepemimpinan pemerintah, inovasi teknologi, kekuatan masyarakat, dan kepastian regulasi.
“Gerakan Indonesia ASRI dapat menjadi warisan penting pemerintahan Presiden Prabowo apabila mampu mengubah perilaku masyarakat, memperbaiki wajah kota, mengurangi pencemaran, dan menjadikan sampah sebagai sumber daya ekonomi serta energi,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]