WahanaNews.co | Kecelakaan
Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 bak kerupuk yang dicengkeram dengan keras,
sehingga hanya puing-puing ukuran kecil yang tersisa. Hal itu disampaikan Komandan
Satuan Tugas operasi pencarian Laksamana TNI Yayan Sofyan mengibaratkan
Menurutnya, kecelakaan pesawat kali ini berbeda dengan yang
dialami maskapai Air Asia pada 2015 lalu. Kala itu, masih ada jasad korban yang
ditemukan dalam terikat di kursi penumpang.
Baca Juga:
Sriwijaya Air Beberkan Alasan 27 Ahli Waris Belum Dapat Ganti Rugi
"Berbeda seperti dengan Air Asia misal menemukan
beberapa Korban yang masih terikat di Kursi. Tiga orang. Sekarang
berbeda," kata Sofyan saat memberi keterangan di atas Kapal KRI Semarang,
Kawasan Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Senin malam (11/1).
Yayan menduga Sriwijaya Air SJ 182 jatuh dalam dengan
menukik tajam, sehingga tubuh pesawat hancur hingga menjadi puing-puing kecil.
Berbeda dengan kecelakaan pesawat Air Asia kala itu.
"(Air Asia) Pada saat jatuh tidak langsung menghujam.
Ada landainya. Ini (Sriwijaya) kayak kerupuk dikremes, (sehingga) belum ada
bongkahan besar. Kebanyakan puing-puing," kata dia.
Baca Juga:
KNKT Beberkan Misteri Sriwijaya Air Jatuh di Kepulauan Seribu
Yayan juga mengatakan kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 yang
begitu parah membuat pencarian black box jadi lebih sulit. Padahal sonar dari
KRI Rigel telah mendeteksi titik lokasi black box tersebut berada.
"Di situ masih ada bongkahan. Kita masih harus cari
cara (menembus bongkahan). Karena ibaratnya pesawat menghujam ke permukaan
laut. Situasinya seperti Itu," kata dia.
Hingga Senin malam (11/1), Basarnas telah sebanyak 45
kantong jenazah hasil pencarian hari ketiga. Ada tambahan 27 kantong jenazah
pada Senin (11/1).
"Hari ini kita mendapatkan 27 kantong jenazah yang
berisi human remains, sehingga total hari ini yang sudah kita dapatkan
berjumlah 45 kantong jenazah," kata Kepala Basarnas Marsdya TNI (Purn)
Bagus Puruhito di Pelabuhan JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin
(11/1). [qnt]