WAHANANEWS.CO - Tragedi tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line Cikarang di Stasiun Bekasi Timur menewaskan 16 penumpang dan seluruh korban diketahui perempuan karena benturan menghantam gerbong khusus wanita di bagian belakang rangkaian.
Kecelakaan maut antara kereta api jarak jauh dan KRL tersebut terjadi pada Senin (27/4/2026) malam di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi.
Baca Juga:
Sebut Wayang Kulit Bentuk Budaya Singapura, PM Lawrence Wong Diserbu Netizen RI
Pada Selasa (28/4/2026), pihak KAI menyebut jumlah korban meninggal dunia sebanyak 15 orang, namun hingga Rabu (29/4/2026) korban tewas bertambah menjadi 16 orang.
Insiden ini menjadi perhatian luas setelah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi mengusulkan agar gerbong khusus wanita ditempatkan di tengah rangkaian kereta sebagai tindak lanjut evaluasi kecelakaan tersebut.
"Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," ujar Arifah kepada wartawan usai menjenguk korban di RSUD Bekasi, Selasa (28/4/2026).
Baca Juga:
Prabowo: Uang yang Diselamatkan dari Korupsi Kini Dikembalikan ke Rakyat
Namun, usulan itu dinilai sejumlah pihak belum tentu menjadi solusi utama karena persoalan mendasar disebut berada pada sistem keselamatan transportasi.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY menegaskan fokus utama seharusnya bukan soal perbedaan gender, melainkan keselamatan seluruh penumpang.
"Kebetulan yang paling belakang adalah kereta khusus wanita. Pasti ada concern mengapa justru yang paling rentan yang kita siapkan secara khusus selama ini gerbongnya, justru yang mendapatkan bisa dikatakan risiko yang paling tinggi," ujar AHY kepada wartawan usai menjenguk korban di RSUD Bekasi, Selasa (28/4/2026).
"Ini juga bagian yang akan kita terus evaluasi, tapi yang jelas adalah laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun," sambungnya.
Ia menambahkan pemerintah akan berfokus membenahi sistem transportasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
"Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan lakinya tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamat, menghadirkan rasa aman, nyaman, dan juga safety first itu benar-benar bukan hanya menjadi jargon tapi benar-benar bisa kita terapkan dengan baik," ujarnya.
Pembahasan mengenai gerbong khusus wanita pun ramai dibicarakan publik, terutama di media sosial, termasuk soal sejarah dan alasan posisinya berada di ujung rangkaian kereta.
Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, gerbong KRL khusus wanita pertama kali diresmikan pada Kamis (19/8/2010) oleh Menteri Perhubungan saat itu Freddy Numberi pada KRL seri 7000 di Depo Depok, Jawa Barat.
"Pengoperasian Kereta Khusus Wanita merupakan terobosan baru sebagai wujud pelayanan transportasi Kereta Api kepada publik pengguna kereta api," kata Menhub kala itu.
Kehadiran gerbong ini bertujuan memberi perlindungan, rasa aman, dan kenyamanan bagi penumpang perempuan serta penumpang yang membawa anak kecil, terutama untuk mencegah risiko pelecehan seksual di dalam kereta.
Secara operasional, gerbong khusus wanita ditempatkan di bagian paling depan dan paling belakang dalam satu rangkaian kereta serta diberi penanda khusus.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama tanpa membedakan gender.
"Kami perlu menegaskan juga bahwa keselamatan ada prioritas utama kami. Kami tidak ada toleransi sama sekali untuk melanggar atau menurunkan tingkat keselamatan dari para pelanggan pengguna jasa PT Kereta Api Indonesia, baik itu gendernya laki-laki maupun gendernya perempuan," ujarnya dalam konferensi pers di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan posisi gerbong wanita di ujung rangkaian mempertimbangkan pencegahan pelecehan, kemudahan akses, serta faktor keamanan karena lebih dekat dengan petugas.
"Selama ini kami lakukan pemisahan itu karena ada beberapa aspek, aspek pertama adalah agar tidak terjadi harassment. Kedua adalah memberi kemudahan-kemudahan akses untuk para perempuan atau wanita juga. Ketiga adalah memberikan security yang lebih karena lebih dekat dengan penjaga di ujung," ucapnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]