Dijelaskan bahwa kualitas udara kategori sedang relatif aman bagi masyarakat umum, namun tetap berpotensi menimbulkan risiko bagi kelompok sensitif saat melakukan aktivitas berat di luar ruangan.
“Kelompok sensitif sebaiknya mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan secara drastis. Ventilasi tidak dianjurkan, dan jendela sebaiknya ditutup untuk menghindari udara luar yang kotor.”
Baca Juga:
Udara Jakarta Makin Parah! Masuk Peringkat 2 Dunia, Warga Diminta Tutup Jendela
Dalam skala global, kota dengan kualitas udara terbaik tercatat berada di Kopenhagen dan Roma dengan AQI 0, diikuti Milan dengan AQI 3 dan Oslo dengan AQI 9 yang semuanya masuk kategori baik.
Sebaliknya, Chiang Mai di Thailand menjadi kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada hari yang sama dengan AQI 208 atau kategori sangat tidak sehat.
Jakarta juga masuk dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk secara global bersama Shanghai, Yangon, dan Kolkata dengan tingkat pencemaran yang bervariasi dari tidak sehat hingga tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Baca Juga:
Kapolres Bogor Curhat ke Gubernur Jabar Terpilih Soal Masalah Jalan Parung Panjang
Indeks AQI sendiri merupakan indikator konsentrasi polutan udara yang dihitung berdasarkan enam parameter utama, yakni PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan.
Dijelaskan bahwa nilai AQI ditentukan oleh polutan dengan tingkat risiko tertinggi pada waktu tertentu dengan skala berkisar antara 0 hingga 500.
Kategori kualitas udara dibagi menjadi enam tingkat, mulai dari baik (0-50), sedang (51-100), tidak sehat bagi kelompok sensitif (101-150), tidak sehat (151-200), sangat tidak sehat (200-299), hingga berbahaya (300-500).