Ia menilai keberhasilan kabinet ke depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyusun program, tetapi juga oleh kecepatan mengeksekusi kebijakan dan membangun kepercayaan publik melalui komunikasi yang konsisten.
"Di era digital saat ini, persepsi publik bergerak sangat cepat. Program yang baik bisa kehilangan dukungan apabila tidak dikomunikasikan secara tepat. Karena itu, Presiden memerlukan tim yang mampu bekerja cepat, adaptif, dan hadir menjawab berbagai pertanyaan masyarakat secara terbuka," katanya.
Baca Juga:
Buruh Apresiasi Prabowo, Said Iqbal Masuk Kabinet Merah Putih
Tohom berpandangan momentum evaluasi kabinet harus dilihat sebagai upaya memperkuat mesin pemerintahan agar semakin efektif dalam mendukung agenda pembangunan nasional yang telah dicanangkan Presiden Prabowo.
"Pergantian atau penyegaran kabinet merupakan hak prerogatif Presiden. Yang paling penting adalah memastikan setiap posisi strategis diisi oleh figur yang memiliki kapasitas kepemimpinan, kemampuan koordinasi, keberanian mengambil keputusan, dan orientasi kuat terhadap hasil," ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia sedang memasuki fase penting menuju target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sehingga dibutuhkan para pembantu Presiden yang mampu bekerja lintas sektor dan menghilangkan ego kelembagaan.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Tekankan Integritas dan Akuntabilitas dalam Pelaksanaan Program MBG
"Negara sebesar Indonesia tidak bisa bergerak dengan pola kerja yang terfragmentasi. Diperlukan orkestrasi yang kuat agar seluruh kementerian bergerak dalam satu irama untuk mencapai target pembangunan nasional," ucap Tohom.
Menurutnya, sinergi antarkementerian menjadi faktor penting untuk mempercepat berbagai agenda strategis pemerintah yang saat ini sedang dijalankan.
Ia menambahkan, koordinasi yang solid juga diperlukan untuk mendukung hilirisasi industri, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan ketahanan energi, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.