WAHANANEWS.CO, Jakarta - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyampaikan respons positif terhadap langkah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang mempelajari teknologi pengolahan sampah modern di Singapura.
MARTABAT menilai upaya tersebut sebagai bentuk keseriusan pemerintah daerah dalam mencari solusi jangka panjang atas persoalan sampah, sekaligus langkah strategis untuk memperkuat pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia.
Baca Juga:
TPA Cipeucang Ditutup, Tangsel Rogoh Rp90 Juta per Hari untuk Buang Sampah ke Cileungsi
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menyatakan bahwa pembelajaran dari Singapura merupakan langkah tepat selama teknologi yang diadopsi tidak diterapkan secara mentah.
“Kami mendukung penuh adaptasi teknologi pengolahan sampah dari Singapura, tetapi yang paling penting adalah penyesuaiannya dengan kearifan lokal dan kondisi sosial masyarakat Jawa Timur,” ujar Tohom, Jumat (23/1/2026).
Menurut Tohom, teknologi insinerasi dan waste to energy (WTE) yang diterapkan Singapura memang terbukti mampu mengurangi volume sampah secara signifikan sekaligus menghasilkan energi.
Baca Juga:
ITDC Siapkan Pengelolaan Sampah Terpadu, MARTABAT Prabowo-Gibran Soroti Pentingnya Ekologi dalam Ekonomi Pariwisata
Namun, ia menegaskan bahwa konteks Indonesia -- khususnya Jawa Timur -- memiliki tantangan berbeda, mulai dari karakter sampah, kepadatan penduduk, hingga tingkat kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya.
“Teknologi setinggi apa pun tidak akan optimal jika masyarakat tidak dilibatkan. Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga, dari kebiasaan memilah, mengurangi, dan memanfaatkan kembali sampah,” kata Tohom.
Ia menilai keberadaan ribuan bank sampah dan desa bersih di Jawa Timur merupakan modal sosial yang sangat kuat untuk menopang teknologi modern yang akan dikembangkan.
Lebih lanjut, Tohom menekankan bahwa adaptasi teknologi harus berjalan seiring dengan edukasi publik dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Konsep ekonomi sirkular, menurutnya, perlu menjadi roh utama dalam pengelolaan sampah agar tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan warga.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa persoalan sampah tidak bisa dipisahkan dari cara kita merencanakan ruang hidup dan mengelola lingkungan secara menyeluruh.
“Pengelolaan sampah berkaitan dengan ekosistem kebijakan dan kesadaran bersama. Karena itu, adopsi teknologi pengolahan sampah harus diiringi dengan edukasi berkelanjutan, penguatan regulasi, serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai langkah Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang mengombinasikan pendekatan hulu melalui perubahan perilaku masyarakat dengan pendekatan hilir melalui pemanfaatan teknologi ramah lingkungan sudah berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
MARTABAT Prabowo-Gibran berharap pengalaman Singapura dapat menjadi inspirasi, bukan sekadar contoh, sehingga lahir model pengelolaan sampah khas Indonesia yang berkelanjutan dan berkeadilan.
“Intinya, ini adalah soal belajar lalu menyesuaikan. Jika kearifan lokal dijadikan fondasi dan teknologi dijadikan alat, kami yakin persoalan sampah bisa ditangani secara lebih manusiawi dan berdampak jangka panjang,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]