WahanaNews.co | Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) terus berupaya mencetak petani inovatif yang mengolah lahan gambut secara berkelanjutan.
Hal ini dilakukan melalui pelatihan Sekolah Lapang Petani Gambut (SLPG) yang memperkenalkan pertanian alami dengan tidak membakar lahan.
Baca Juga:
Petani Tolangohula Terima Bantuan Benih Rp1,078 Miliar dari Gubernur Gorontalo
"Para petani perlu solusi praktis dalam pertanian. Mereka kita beri materi terkait konsep dasar ekosistem gambut, teknik hingga praktik langsung pembuatan pupuk organik, pembenahan tanah dan pestisida alami,” ujar Kepala Kelompok Kerja Bidang Edukasi dan Sosialisasi BRGM, Suwignya Utama, dalam keterangannya, Sabtu (25/9/2021).
Di Hari Tani Nasional yang jatuh pada 24 September kemarin, banyak petani gambut yang sudah bisa mengolah lahannya tanpa membakar.
Bahkan, pertanian alami dan berkelanjutan ini terbukti bisa meningkatkan kesejahteraan mereka karena minimnya biaya produksi.
Baca Juga:
Legislator Penajam Paser Utara Ajak Anak Muda Berperan dalam Ketahanan Pangan
Badri, salah seorang petani gambut di Desa Buantan Lestari, Bunga Raya, Siak, Riau, menyadari bahwa membakar lahan bisa menyebabkan polusi udara, lahan menjadi rusak, bahkan bakteri atau mikroba dalam tanah juga ikut rusak.
Menurutnya, dengan mengolah tanaman di lahan gambut, biaya produksi menjadi minim.
“Alhamdulillah setelah diaplikasikan dari pelatihan SLPG sangat memuaskan, kami diajarkan pentingnya bakteri, unsur hara dan membuat pestisida nabati, itu sangat membantu meminimalkan pengeluaran untuk bertani,” jelasnya.