Saat itu, kekeringan berkepanjangan menyebabkan banyak lahan pertanian mengalami kekurangan air yang berujung pada gagal panen dan kerugian besar bagi petani.
“Kita tidak ingin kejadian seperti yang lampau terulang tanpa persiapan yang memadai,” imbuh politisi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Baca Juga:
Kapan Puncak Musim Kemarau di RI? Ini Prediksi BMKG
Karena itu, Daniel menekankan pentingnya langkah mitigasi yang terukur dan dilakukan sejak sekarang.
Salah satu langkah yang menurutnya perlu segera direalisasikan adalah penyediaan sumur bor di kawasan pertanian yang selama ini rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau.
“Percepatan pembangunan embung di tingkat desa dengan dukungan sumur dalam, dan penyesuaian pola tanam berbasis prakiraan BMKG,” tutur Daniel Johan.
Baca Juga:
Bantah Isu El Nino Ekstrem, BMKG Sebut Kondisi Iklim Masih Netral
Selain memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian, Daniel juga mengingatkan adanya ancaman lain yang sering muncul saat musim kering berkepanjangan, yakni peningkatan serangan hama tanaman.
Menurutnya, pemerintah perlu menyiapkan strategi antisipasi agar produktivitas pertanian tetap terjaga meski menghadapi kondisi iklim ekstrem.
Ia juga menyoroti pentingnya pembangunan sistem pengelolaan air nasional yang terintegrasi dan berbasis pada siklus iklim.