“Wartawan dapat melihat data betapa alih fungsi lahan hutan itu yang luar biasa. Wartawan punya data, misalkan kecenderungan cuaca pada tahun ini, cuaca tiga bulan mendatang untuk mengingatkan,” Jelasnya.
Ewako mencontohkan, soal bencana likuifaksi ‘penyairan tanah’ pada September 2018 di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah bahwa sebelum terjadi, pers sempat mengingatkan itu.
Baca Juga:
Layanan Bedah Syaraf RSUI Program Karpet Merah untuk Neurologi
“Tetapi lagi-lagi ini juga kepekaan pemerintah mulai dari pusat sampai desa terhadap kebencanaan itu juga lemah. Jadi pers sudah mengingatkan ancaman likuifaksi itu. Bahwa di area di situ yang dihuni oleh banyak keluarga,” ungkap Ridwan.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia dan Peneliti Komunikasi Bencana, Ressi Dwiana dan Ketua Forum Indonesia Emas (FEI) Deny Romel i Kantor PWI Kota Depok, Jalan Melati Raya-PWI, Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (6/2/2026). [WAHANANEWS.CO / Hendrik Raseukiy]
Hormati Etika Kultural
Baca Juga:
Dokter Ari: Peran RSUI di Luar Ruang Praktek: Harus Juga Mendidik dan Mencerdaskan Bangsa
Sedangkan Ressi Dwiana menyoroti pemberitaan pers yang berempati dan menghormati etika kultural kepada korban bencana dan kebencanaan.
Dwiana mengatakan pers perlu menangkal atau meluruskan kabar-kabar yang tak akurat di medsosnet. Dia menilai ada eksploitasi korban bencana secara vulgar.
“Perlu empati dalam mengabarkan bencana alam. Jangan bencana alam menjadi komoditas keuntungan tertentu. Saya pernah jadi wartawan yang meliput bencana alam jadi faham yang mesti kita jaga etika disaat meliput,” ingat Ressi.