Dwiana mencontohkan, soal yang sensitif misalkan penayangan gambar korban bencana, seorang muslimah yang sedang tidak pakai jilbab secara vulgar, padahal sedang pakaiannyi hilang sewaktu bencana.
“Hal seperti diperhatikan oleh pers yang semestinya mempunyai metode kerja yang berkompetensi dibandingkan orang yang aktif di medsos. Kemudian gambar itu tersebar meluas atau ditayangkan berulang-ulang di pemberitaan. Bagaimana kira-kira perasaan korban tersebut atau keluarga, apakah berkenan. Walau saya bukan muslim, tapi saya dapat merasakan ada sesuatu yang kurang tepat,” ujar Ressi.
Baca Juga:
Layanan Bedah Syaraf RSUI Program Karpet Merah untuk Neurologi
Sinergis BNPB - Pers
Sedangkan Lia Agustina keterbukaan BNPB dalam bekerjasama dengan pers dalam penyebaran informasi kebencanaan.
BNPB, sebut Agustina menyediakan ruang pers yang mudah diakses. Jikapun ada dirasakan keterlambatan informasi, hal ini karena sedang mengumpulkan data dan fakta yang akurat bahwa daripada informasi cepat-cepatan lebih ada yang lebih penting, yaitu akurat dan benar.
Baca Juga:
Dokter Ari: Peran RSUI di Luar Ruang Praktek: Harus Juga Mendidik dan Mencerdaskan Bangsa
“Bagi BNPB menyediakan informasi kepada pers untuk disebarkan kepada masyarakat termasuk prioritas kinerja. Ini juga menjadi kiat mencegah menyebarnya informasi hoaks,” ujar Lia.
Agustina mengajak anggota PWI dan wartawan lain untuk sinergis dengan BNPB dalam memberikan kebencanaan lebih erat.
[Redaktur: Hendrik Isnaini Raseukiy]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.