Ali menyebut, narasi tersebut penting agar masyarakat dapat menilai sendiri dan membandingkan pengalaman mereka di tiap era kepemimpinan nasional.
“Sehingga nanti biar masyarakat yang akan mengkomparasi nanti, enakkan zaman mana menjadi Presiden, zaman SBY, Megawati, atau zaman Pak Joko Widodo,” kata Ali.
Baca Juga:
PSI Soroti Pilkada Masih Dihantui Politik Uang
Ia menutup dengan menegaskan bahwa partai tidak boleh mengklaim perasaan publik, karena penilaian tersebut sepenuhnya menjadi pengalaman kolektif masyarakat Indonesia.
“Biar masyarakat, kita tidak boleh mewakili masyarakat karena ini menyangkut rasa yang dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia,” imbuhnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.