Tohom juga menyambut baik target pemerintah untuk mencapai 100 persen pengelolaan sampah pada 2029, termasuk rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di 34 kota/kabupaten.
Ia menyebut pendekatan Waste to Energy (WtE) sebagai langkah strategis apabila dijalankan dengan transparan dan berstandar lingkungan ketat.
Baca Juga:
Penguatan BUMN Pembiayaan Dinilai Strategis, MARTABAT Prabowo-Gibran: Fondasi Bank UMKM Mulai Dibangun
“Teknologi insinerator modern yang digunakan negara seperti China mampu mengubah kota-kota besar menjadi lebih bersih sekaligus menghasilkan listrik. Indonesia harus belajar, tetapi tetap memastikan standar emisi dan dampak lingkungannya terkontrol,” katanya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa pengembangan PSEL harus dipandang sebagai bagian dari transisi energi nasional.
Menurutnya, sampah merupakan sumber energi alternatif yang selama ini terabaikan.
Baca Juga:
Atasi Kumuh dan Bau, MARTABAT Prabowo-Gibran: PSEL Regional di Kawasan Otorita IKN Jadi Simbol Peradaban Baru Indonesia
“Setiap ton sampah yang dikelola dengan baik bukan hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Jika dikelola secara profesional, sampah bisa menjadi sumber ekonomi sirkular yang membuka lapangan kerja baru,” ujarnya.
Ia menilai alokasi Dana Insentif Daerah hampir Rp 1 triliun untuk daerah berprestasi dalam pengelolaan sampah merupakan kebijakan progresif.
Namun ia mengingatkan agar indikator penilaian berbasis hasil nyata, bukan sekadar laporan administratif.