WAHANANEWS.CO, Jakarta - MARTABAT Prabowo-Gibran menilai langkah Danantara Indonesia membuka peluang keterlibatan dalam berbagai aksi korporasi strategis, termasuk kemungkinan akuisisi saham perusahaan asing di sektor pertambangan, sebagai terobosan penting yang mempertegas posisi Indonesia dalam mengendalikan investasi nasional.
Organisasi relawan nasional pendukung pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka itu menilai langkah tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia semakin percaya diri dalam mengambil peran utama di sektor-sektor strategis nasional.
Baca Juga:
Prabowo Perintahkan Danantara Turunkan Bunga PNM, MARTABAT Prabowo-Gibran: Rakyat Kecil Bisa Lebih Berdaya
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran KRT Tohom Purba mengatakan bahwa keberanian Danantara membuka peluang investasi dan akuisisi merupakan sinyal kuat bahwa Indonesia tidak lagi hanya menjadi tujuan investasi, tetapi sudah tampil sebagai pengendali arah investasi.
“Ini adalah lompatan besar dalam sejarah pembangunan nasional. Di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran, Indonesia menunjukkan martabat sebagai bangsa yang mampu berdiri sejajar dengan korporasi global dan ikut menentukan masa depan industri strategis dunia,” ujar Tohom Purba, Jumat (15/5/2026).
Menurut Tohom, potensi keterlibatan Danantara dalam PT Weda Bay Nickel memiliki arti sangat penting karena nikel merupakan komoditas kunci dalam pengembangan baterai kendaraan listrik dan industri energi baru.
Baca Juga:
Semprot Sistem Ekonomi, Prabowo Turunkan Bunga Kredit Ultra Mikro Jadi 8 Persen
“Ketika Indonesia masuk lebih dalam ke rantai nilai global, maka manfaat ekonomi, transfer teknologi, dan penciptaan lapangan kerja akan semakin besar. Ini bukan hanya soal investasi, tetapi tentang kedaulatan ekonomi nasional,” katanya.
Tohom menilai kehadiran Danantara sebagai strong local partner akan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam setiap negosiasi dengan investor internasional.
“Selama ini banyak negara kaya sumber daya hanya menjadi pemasok bahan mentah. Kini Indonesia bergerak menjadi pemilik kepentingan strategis dan ikut menikmati nilai tambah yang jauh lebih besar,” tuturnya.