WAHANANEWS.CO, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI Slamet menaruh perhatian serius terhadap rencana kerja sama antara Kamar Dagang dan Industri Indonesia dengan sejumlah perusahaan asal China terkait pengembangan hilirisasi industri unggas guna mendukung kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, kerja sama tersebut perlu dikaji secara matang agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap keberlangsungan usaha peternak rakyat di dalam negeri.
Baca Juga:
Pemerintah Tata Ulang Program Makan Bergizi, Siapa yang Beruntung?
Ia menegaskan bahwa program MBG seharusnya menjadi peluang besar untuk memperkuat industri peternakan nasional, khususnya bagi peternak kecil dan pelaku UMKM di sektor unggas.
Karena itu, pemerintah diminta berhati-hati agar program strategis tersebut tidak justru menciptakan ketergantungan baru terhadap pihak asing.
“Program MBG seharusnya menjadi momentum kebangkitan peternak lokal, bukan malah membuka ruang ketergantungan baru terhadap pihak luar. Indonesia memiliki kapasitas produksi telur dan ayam yang besar. Yang perlu diperkuat adalah tata kelola, distribusi, serta keberpihakan terhadap peternak rakyat,” ujar Slamet dalam rilis yang diterima Parlementaria di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Baca Juga:
Bergerak Cepat Panggil BPKP dan PPATK, Prabowo Akui Terima Laporan Penyimpangan BGN
Menurutnya, kondisi peternak unggas saat ini tengah menghadapi tekanan cukup berat.
Harga telur di tingkat peternak mengalami penurunan akibat lemahnya penyerapan pasar, sementara biaya produksi terus meningkat.
Dalam situasi seperti itu, masuknya investasi asing dengan skema industri yang terlalu dominan dinilai berpotensi mempersempit ruang usaha peternak mandiri di berbagai daerah.