WahanaNews.co | Prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 315/Garuda, atau yang dijuluki Pasukan
Setan, saat ini tengah bersiap-siap untuk ditugaskan ke Papua sebagai
Satuan Tugas Pengamanan Daerah Rawan (Satgas Pamrahwan).
Prajurit yang berada di bawah kendali
Korem 061/Surya Kencana, Kodam III/Siliwangi, itu terus
mengasah kemampuannya untuk menghadapi berbagai situasi di daerah rawan konflik
yang dapat mengancam nyawa mereka.
Baca Juga:
Israel Selidiki Kematian 3 Prajurit TNI di Lebanon, Salahkan Hizbullah
Akhir pekan lalu, ratusan prajurit
tempur Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang dikenal sebagai
pemburu kelompok DI/TII pimpinan Karto Suwiryo di Jawa Barat itu melakukan
latihan menembak dengan senjata Sniper
atau senjata runduk.
Latihan menembak runduk yang dipimpin
langsung Komandan Batalyon Infanteri 315/Grd Mayor Inf Aryo Priyoutomo itu
dilaksanakan di Lapangan Tembak Ciampea, Bogor, Jawa Barat.
"Pada pelaksanaan latihan ini telah
direncanakan sedemikian rupa sehingga sasaran latihan ini dapat meningkatkan
kemampuan para prajurit bagi para penembak runduk yang akan melaksanakan Tugas
Operasi Pamrahwan Papua," kata Danyonif 315/Grd, Mayor Inf
Aryo Priyoutomo, dikutip dari keterangan resminya,
Selasa (23/2/2021).
Baca Juga:
Komnas HAM Kejar Pemeriksaan 4 Anggota TNI di Kasus Air Keras Andrie Yunus
Danyonif 315/Grd menambahkan, sebelum
menembak para prajurit dibekali materi teoritis tentang cara membuat kamuflase
atau penyamaran di medan tempur, observasi medan, serta teknik mengeksekusi
sasaran.
"Prajurit dilatihkan agar
kamuflase mereka tidak terdeteksi oleh pengeihatan musuh saat melaksanakan
tugas observasi medan dan sasaran," ujarnya.
Dalam latihan Sniper itu, para prajurit Pasukan
Setan menggunakan senapan dengan sistem bolt action beramunisi kaliber 7,62 x 51mm.
Dengan bobot 6,82 kg, senapan ini
memiliki panjang laras 650 mm yang dilengkapi dengan teleskop.
"Dalam pertempuran, penembak runduk
memegang peran penting untuk bisa melumpuhkan lawan dari jarak jauh. Biasanya
para penembak runduk ini tidak hanya digunakan untuk operasi penugasan
melainkan juga menjalankan penugasan khusus seperti pengamanan VIP dan VVIP,"
katanya.
Sebagaimana diketahui, daerah
penugasan Satgas Pamrahwan adalah medan yang cukup sulit dalam menghadapi
lawan.
Medan tempur yang di kelilingi wilayah
perbukitan dan hutan di Papua menjadi salah satu penyebab kelompok bersenjata
Organisasi Papua Merdeka (OPM) kerap kali melakukan penyerangan terhadap
pos-pos jaga TNI dari jarak jauh.
Dengan dibekalinya senjata sniper atau senjata runduk ini dinilai
sangat efektif dalam menghadapi berbagai serangan yang dapat mengancam nyawa
para prajurit TNI yang menjalankan tugas pengamanan di wilayah Papua. [qnt]