WAHANANEWS.CO - Langit sudah masuk kemarau, tapi hujan masih turun—fenomena ini bukan aneh, justru sinyal kuat Indonesia sedang berada di masa peralihan musim atau pancaroba pada April 2026.
Sejumlah wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026, namun hujan masih kerap terjadi di berbagai daerah sehingga menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat.
Baca Juga:
7 Tempat Paling Aneh di Dunia, Dari Tengkorak hingga Gerbang Neraka
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menjelaskan kondisi hujan di awal musim kemarau merupakan hal yang wajar karena Indonesia saat ini masih berada dalam masa transisi dari musim hujan ke kemarau.
Menurut laporan perkembangan musim kemarau dengan pembaruan data Kamis (10/4/2026), sebanyak 7,8 persen wilayah Indonesia atau 55 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau, sementara wilayah lainnya masih mengalami peralihan secara bertahap.
Dalam laporan Prediksi Musim Kemarau 2026, BMKG menyebutkan sebagian besar wilayah mulai masuk kemarau pada April sebanyak 114 ZOM atau 16,3 persen, Mei sebanyak 184 ZOM atau 26,3 persen, dan Juni sebanyak 163 ZOM atau 23,3 persen, dengan peralihan yang dimulai dari wilayah Nusa Tenggara lalu meluas ke daerah lain.
Baca Juga:
Pernyataan Misterius Trump Soal Iran Picu Spekulasi Global
Dalam rilisnya Kamis (16/4/2026), BMKG menyatakan bahwa hujan masih terjadi selama periode pancaroba dengan intensitas ringan hingga lebat di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut dipicu oleh berbagai faktor atmosfer yang masih aktif, seperti gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG), serta fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang terpantau melintasi wilayah Sumatera hingga Papua.
Selain itu, perlambatan angin dan pemanasan permukaan pada siang hari turut mendukung pembentukan awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan.
Faktor lain yang berpengaruh adalah keberadaan Bibit Siklon Tropis 92S di Samudra Hindia barat daya Lampung serta sirkulasi siklonik di sejumlah wilayah yang memicu terbentuknya daerah pertemuan angin dan meningkatkan peluang hujan.
BMKG juga memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau dengan sifat bawah normal atau lebih kering dari rata-rata klimatologis, yang diperkirakan terjadi di 451 ZOM atau sekitar 64,5 persen wilayah.
Wilayah yang berpotensi lebih kering meliputi sebagian Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Sementara itu, sekitar 245 ZOM atau 35,1 persen wilayah diprediksi mengalami musim kemarau dengan sifat normal, termasuk Sumatera bagian utara dan tengah, sebagian Jawa, Kalimantan bagian timur dan utara, Sulawesi Tenggara, hingga sebagian Papua.
Adapun sekitar 0,4 persen wilayah atau tiga ZOM diperkirakan mengalami musim kemarau dengan sifat atas normal atau lebih basah dari biasanya, yakni di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan yang masih bisa terjadi sewaktu-waktu selama masa peralihan musim serta terus memantau informasi cuaca terkini.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]