WAHANANEWS.CO, Jakarta - Udara dingin yang terasa menusuk pada malam hingga menjelang pagi di kawasan Bandung bukanlah anomali, melainkan fenomena khas musim kemarau yang muncul saat langit semakin minim tutupan awan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Bandung menjelaskan bahwa berkurangnya awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari.
Baca Juga:
RI Bakal Diterjang Suhu Super Panas? Ini Prediksinya BMKG
Fenomena tersebut menyebabkan suhu udara di Bandung Raya turun cukup tajam, terutama di wilayah dataran tinggi seperti Lembang, Ciwidey, dan Pangalengan.
Berdasarkan hasil pengamatan sepanjang 1 hingga 18 Juli 2026, suhu minimum di Kota Bandung tercatat mencapai 16,4 derajat Celsius.
Sementara itu, suhu yang lebih rendah terjadi di Pos Pengamatan Lembang dengan catatan mencapai 13,4 derajat Celsius.
Baca Juga:
Waspada Kemarau Panjang, BMKG Ungkap Daerah yang Akan Alami Puncak Kekeringan
Forecaster Stasiun BMKG Bandung, Neneng Sugianti, mengatakan udara dingin pada musim kemarau biasanya paling terasa mulai malam, dini hari, hingga menjelang matahari terbit.
Kondisi itu terjadi karena permukaan bumi mengalami pendinginan setelah melepaskan kembali energi panas yang diserap sepanjang siang.
“Saya sering menganalogikan awan itu seperti payung,” ujar Neneng, melansir Kompas, Minggu (19/7/2026).