WAHANANEWS.CO, Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR RI Surahman Hidayat menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus pembegalan yang menimpa seorang remaja bernama Kenzi (16) di kawasan Arcamanik, Kota Bandung.
Insiden yang terjadi pada Sabtu (4/7/2026) tersebut mengakibatkan korban mengalami luka berat dan harus menjalani beberapa kali tindakan operasi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Baca Juga:
Netty Soroti 6.000 Bayi Meninggal Akibat Penyakit Jantung Bawaan, Desak Pemerataan Layanan Operasi
Peristiwa tersebut menjadi perhatian serius karena tidak hanya menimbulkan dampak fisik yang berat bagi korban, tetapi juga memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap maraknya aksi kriminalitas jalanan.
Surahman menilai aparat penegak hukum harus bergerak cepat agar pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
"Kami mengutuk keras aksi brutal tersebut dan mendesak aparat kepolisian segera menindaklanjuti laporan keluarga korban, mencari serta menangkap pelaku, dan memastikan mereka dijatuhi hukuman maksimal sesuai hukum yang berlaku," tegas Surahman yang dikutip dari situs resmi DPR RI, Rabu (5/8/2026).
Baca Juga:
Komisi VIII DPR Minta Persiapan Haji 2027 Dimulai Lebih Awal Demi Tingkatkan Layanan Jemaah
Ia juga meminta Polrestabes Bandung mempercepat proses penyelidikan dan penyidikan secara profesional, objektif, serta transparan.
Langkah tersebut dinilai penting agar kasus segera terungkap dan para pelaku tidak kembali menebar keresahan di tengah masyarakat.
"Kami mendesak Polrestabes Bandung segera menangkap para pelaku, membongkar jaringan begal yang terlibat, dan memastikan proses hukum berjalan cepat serta transparan agar kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum tetap terjaga," ujarnya.
Menurut Surahman, penanganan kasus pembegalan tidak boleh berhenti hanya pada penangkapan pelaku yang berada di lapangan.
Aparat penegak hukum juga perlu mengungkap pihak-pihak lain yang diduga terlibat dalam jaringan kejahatan tersebut sehingga upaya pemberantasan dapat dilakukan secara menyeluruh.
"Penindakan terhadap begal harus menyentuh akar masalahnya. Pihak kepolisian harus membongkar jaringan di balik aksi ini, termasuk pihak-pihak yang mengorganisasi dan memanfaatkan hasil kejahatan. Dengan penindakan menyeluruh, efek jera akan tercipta dan masyarakat lebih terlindungi," imbuhnya.
Selain menekankan pentingnya penegakan hukum, Surahman juga menyoroti perlunya optimalisasi penggunaan kamera pengawas atau CCTV di kawasan yang dinilai rawan tindak kriminal.
Menurutnya, rekaman CCTV dapat menjadi salah satu alat bukti penting untuk membantu proses identifikasi pelaku sekaligus mempercepat pengungkapan kasus.
Karena itu, pemerintah daerah bersama kepolisian diminta memastikan seluruh perangkat CCTV di ruang publik berfungsi dengan baik, terutama di lokasi-lokasi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Ia turut mendorong pemerintah dan aparat penegak hukum memperkuat kebijakan dalam pemberantasan aksi begal, termasuk melalui penerapan sanksi yang lebih tegas terhadap pelaku yang melakukan tindak kekerasan.
"Pemerintah dan aparat penegak hukum perlu memperkuat kebijakan penindakan terhadap begal, termasuk pemberatan hukuman bagi pelaku yang melibatkan kekerasan. Kejahatan jalanan harus ditindak secara sistematis agar tidak menjadi ancaman berulang bagi masyarakat," tegasnya.
Di sisi lain, Surahman menilai penanganan terhadap korban harus menjadi perhatian utama dalam setiap proses penegakan hukum.
Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan korban memperoleh perlindungan secara menyeluruh, mulai dari layanan kesehatan hingga pendampingan psikologis agar proses pemulihan dapat berjalan optimal.
"Selain mengalami trauma akibat pembegalan, luka fisik yang diderita korban juga mengancam cita-citanya menjadi pilot. Oleh karena itu, negara wajib hadir memastikan pemulihan medis dan psikologis berjalan secara konsisten agar korban dapat kembali menata masa depannya," katanya.
Lebih lanjut, Surahman mengingatkan bahwa anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang rentan menjadi sasaran tindak kriminal di ruang publik.
Oleh sebab itu, ia mendorong peningkatan intensitas patroli kepolisian di titik-titik rawan kejahatan, penguatan edukasi keselamatan bagi kalangan remaja, serta peningkatan peran keluarga dalam melakukan pengawasan terhadap aktivitas anak.
Ia juga mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif menjaga keamanan lingkungan melalui kepedulian dan kerja sama dengan aparat.
Menurutnya, partisipasi warga menjadi salah satu langkah preventif yang efektif untuk mencegah terjadinya aksi kriminalitas jalanan.
"Sinergi antara aparat penegak hukum, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang aman serta mencegah aksi kriminalitas kembali terjadi," pungkasnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]