Menurutnya, aspek toleransi dan literasi keagamaan yang sudah menunjukkan hasil baik harus terus diperkuat agar berkelanjutan.
“Penguatan aspek yang sudah baik, seperti toleransi dan literasi kitab suci pada generasi muda, harus terus dikawal agar menjadi karakter permanen bangsa,” ucap Arsad.
Baca Juga:
Enam Tren Wisata 2025 Mengemuka, Kemenparekraf Siapkan Strategi Besar Hadapi 2026
Sementara itu, Peneliti Alvara Strategic Research, Lilik Purwandi, menyebut Gen Z memiliki posisi strategis sebagai penggerak utama menuju visi Indonesia Emas 2045.
Berdasarkan hasil survei, terdapat sejumlah indikator positif yang memperkuat optimisme terhadap peran generasi muda tersebut.
Pada indikator pertama, literasi Al-Qur’an, khususnya kemampuan membaca Al-Qur’an dengan tartil, Gen Z mencatat indeks tertinggi dibandingkan generasi lain.
Baca Juga:
Mengapa Hajatan 13 Beji: Menyatukan yang Terserak
Nilai indeks kemampuan membaca Al-Qur’an Gen Z mencapai 56,29, melampaui Milenial (54,06), Generasi X (53,97), serta Baby Boomers (50,95).
Indikator kedua berkaitan dengan sikap toleransi beragama. Gen Z mencatat skor tertinggi pada indikator tidak membubarkan kegiatan keagamaan aliran atau organisasi keagamaan lain, dengan indeks 80,03.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Milenial (78,77), Generasi X (78,97), dan Baby Boomers (78,81).