Irfan Setiaputra mengatakan, hal
tersebut dilakukan untuk bertahan dari krisis yang ditimbulkan oleh danpak
pandemi.
"Kami harus melalui
restrukturisasi yang komprehensif," jelas Irfan Setiaputra.
Baca Juga:
Sambut HUT ke-76, Garuda Indonesia Tebar Diskon Penerbangan ke Berbagai Tujuan Wisata
"Kami memiliki 142 pesawat, dan perhitungan awal kami tentang bagaimana kami melihat
pemulihan ini telah berjalan, kami akan beroperasi dengan jumlah pesawat tidak
lebih dari 70," sambungnya.
Diketahui, pernyataan tersebut merujuk
pada armada maskapai Garuda Indonesia.
Namun, tidak
termasuk di unit usaha maskapai bertarif rendah, yakni Citilink.
Baca Juga:
Resmi Buka Kantor Baru di Batam Center, Garuda Indonesia Ingin Tingkatkan Aksesibilitas Layanan
Krisis Covid-19 telah memaksa puluhan
maskapai penerbangan dan bisnis penerbangan lainnya, termasuk
Thai Airways International Pcl, Latam Airlines Group SA, dan lessor AeroCentury Corp untuk
merestrukturisasi atau mencari perlindungan kebangkrutan.
Sementara perjalanan udara di beberapa
negara mulai pulih saat peluncuran vaksinasi semakin cepat, kembali ke tingkat
lalu lintas sebelum pandemi masih membutuhkan waktu bertahun-tahun karena virus bermutasi dan pemerintah mengambil pendekatan
berbeda untuk membuka perbatasan.
Asosiasi Transportasi Udara
Internasional telah memperingatkan operator secara global akan kehilangan
sekitar 48 miliar dollar AS pada tahun 2021 di tengah kemunduran dalam memulai
kembali perjalanan. [dhn]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.