Dibutuhkan kolaborasi yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari klub, akademi, pelatih, pemain, suporter, pemerintah daerah, dunia usaha, media, hingga masyarakat luas agar ekosistem sepak bola nasional berkembang secara profesional dan berkelanjutan.
"Ini adalah kerja besar bangsa Indonesia. Klub, akademi, pelatih, pemain, suporter, pemerintah daerah, dunia usaha, media, dan seluruh masyarakat harus berjalan dalam satu semangat yang sama. Semangat untuk membangun sepak bola Indonesia yang profesional, berintegritas, berprestasi, dan membanggakan bangsa. Saya ingin setiap anak Indonesia berani bermimpi mengenakan lambang Garuda di dadanya. Tetapi lebih dari itu, saya ingin negara memastikan bahwa setiap anak yang memiliki mimpi tersebut memperoleh kesempatan untuk menggapainya," tegasnya.
Baca Juga:
Pemerintah Pastikan Stok Beras Terjaga, Siap Hadapi Ancaman El Nino
Menutup amanat Presiden, Erick menyampaikan bahwa visi pembangunan sepak bola nasional bukan hanya berorientasi pada pencapaian tampil di Piala Dunia 2030.
Lebih dari itu, pemerintah ingin menjadikan sepak bola sebagai instrumen untuk memperkuat persatuan nasional, meningkatkan daya saing bangsa, serta mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional.
"Saya mengucapkan selamat berkongres kepada seluruh peserta kongres. Laksanakan amanah ini dengan penuh tanggung jawab, mengedepankan persatuan, profesionalisme, dan kepentingan sepak bola Indonesia di atas kepentingan yang lain. Mari kita bekerja sama, bergandengan tangan, dan menjaga semangat gotong royong agar cita-cita Indonesia tampil di Piala Dunia dapat kita wujudkan," pungkasnya.
Baca Juga:
Kemenkes: Indonesia Masih Hadapi Beban Dengue Tertinggi di Asia Tenggara
[Redaktur: Ajat Sudrajat]